DEWASA

now browsing by category

 

PMS(PENYAKIT MENULAR SEX) PALING DITAKUTI

PMS(PENYAKIT MENULAR SEX) PALING DITAKUTI

RAJA88BET – Penyakit baru muncul setiap saat, demikian pula dengan infeksi penyakit seksual menyebar. Tersebut empat bakteri yang bisa jadi intimidasi serius buat kesehatan penduduk.

1. Neisseria meningitidis Neisseria meningitidis,

seringkali dikatakan sebagai meningococcus. Penyakit ini bisa mengakibatkan meningitis, infeksi otak serta selaput pelindung syaraf tulang belakang yang bisa mematikan. Biasanya, perihal ini dilihat jadi pemicu infeksi urogenital.
Satu analisis tahun 1970-an memvisualisasikan bagaimana simpanse jantan terserang infeksi urethra sesudah mengalihkan bakteri dari hidung serta tenggorokan ke penisnya melalui auto-fellatio.
“Binatang ini seringkali lakukan kontak pada alat kelamin serta mulut sendiri,” kata penulisnya. Seputar lima sampai 10% orang dewasa membawa Neisseria meningitidis dibagian belakang hidung serta tenggorokan.
Beberapa analisis menyaratkan, penyakit ini bisa disebarkan ke pasangan melalui sex oral, ciuman intim atau bentuk lainnya kontak intim yang menularkan titik kecil infeksi. Beberapa periset tidak meyakini type jalan penyebaran yang mengakibatkan wabah bentuk serbuan penyakit diantara pria gay serta biseksual di Eropa, Kanada, serta Amerika Serikat.
Meski begitu, satu analisis urethritis yang dikarenakan Neisseria meningitidis pada grup pria yang terpisah (semua, terkecuali satu orang, ialah heteroseksual) menyaratkan mereka memperolehnya waktu terima sex oral. Beberapa ilmuwan meyakini type yang berlangsung di beberapa kota AS pada tahun 2015 mempunyai DNA melalui rekombinasi genetik dengan kerabat dekatnya, Neisseria gonorrhoeae, pemicu gonore.
Mutasi ini sangat mungkin infeksi penyebaran seksual yang menebar lebih efektif. Lima type Neisseria meningitidis mengakibatkan sejumlah besar infeksi dalam dunia; tapi ada dua vaksin yang bisa memberi seperti perlindungan pada kelima type ini.

2. Mycoplasma genitalium Mycoplasma genitalium,

salah satunya bakteri paling kecil, jadi populer melalui nama STI. Diidentifikasi pada tahun 1980-an, bakteri ini saat ini menginfeksi seputar satu sampai 2% masyarakat serta terpenting didapati pada remaja serta orang muda. Infeksi Mycoplasma genitalium, walau seringkali tiada tanda-tanda, bisa mirip klamidia atau gonore dengan iritasi bersambung pada urethra serta serviks.
Sebab perihal ini bisa menyebabkan penyakit pembengkakan panggul pada skema reproduksi wanita, bakteri ini pula dihubungkan dengan ketidaksuburan, keguguran, kelahiran awal serta bahkan juga bayi dilahirkan dalam kondisi wafat.
Walau kondom bisa menolong mencegah infeksi, pada periset mencemaskan penambahan penolakan Mycoplasma genitalium pada perlakuan dengan memakai antibiotika azithromycin serta doxycycline.
“Kecemasan saya berkaitan dengan mikroorganisma ini ialah sebab makin tunjukkan penolakan, jadi perihal ini semakin lebih banyak berlangsung,” kata Matthew Golden, direktur Public Health Seattle serta King County HIV/STD Program.
Pengujian penambahan bisa menolong mencegah timbulnya superbug Mycoplasma genitalium. Meski begitu, cara diagnosis yang sudah ada berdasar pada tes urine serta serviks atau vagina, masih tetap jarang dikerjakan serta belum juga lolos kendala ketentuan AS.

3. Shigella flexneri

Shigellosis (atau disentri Shigella) disebarkan melalui kontak langsung ataukah tidak langsung dengan kotoran manusia. Infeksi mengakibatkan keram perut kronis serta diarea berdarah serta bernanah, yang menolong berlanjutnya penyebaran bakteri.
Walau penyakit ini umumnya dihubungkan dengan anak kecil serta orang yang lakukan perjalanan di negara berpendapatan rendah serta menengah, beberapa periset mulai mencatat masalah shigellosis pada pria gay serta biseksual di tahun 1970-an. Shigella flexneri dipercaya menjadi bentuk baru penyebaran melalui sex oral serta anal, serta mengakibatkan beberapa STI dalam dunia mulai sejak itu.
Demetre Daskalakis, wakil komisaris New York City Department of Health and Mental Hygiene, menjelaskan STI secara cepat tidak bisa diatasi melalui azithromycin, yang dipakai untuk menyembuhkan gonore. Sebab tubuh kesehatan penduduk mencemaskan peluang Shigella menyebabkan timbulnya super bug gonore, ia menjelaskan, banyak pihak mengaplikasikan taktik penyembuhan bermacam.
Buat masyarakat dewasa yang dapat disebut sehat, beberapa pakar saat ini menyarankan untuk meredam pemakaian antibiotika serta membiarkan shigellosis.

4. Lymphogranuloma venereum (LGV)

LGV dikarenakan type Chlamydia trachomatis tidak biasa serta bisa mengakibatkan “infeksi serius”, menurut Christopher Schiessl, seseorang dokter pada klinik One Medical di San Francisco.
LGV peluang pada awalnya memunculkan jerawat sesaat atau luka pada alat kelamin, yang lalu masuk skema limpa badan. Infeksi rektal bisa mirip pembengkakan penyakit lambung serta mengakibatkan ketidaknormalan usus serta rektal kronik serta serius seperti fistula serta stricture.
Dalam sepuluh tahun paling akhir, LGV jadi makin umum di Eropa serta Amerika Utara, serta dihubungkan dengan wabah beberapa penyakit, terpenting diantara pria gay serta biseksual. Sama dengan klamidia, LGV bisa tingkatkan resiko terserang HIV.

Pemakaian kondom waktu lakukan hubungan seksual bisa kurangi resiko infeksi, sesaat penyembuhan LGV peluang membutuhkan pemakaian antibiotika seperti doxycycline saat tiga minggu.

CERITA SEX KENIKMATAN PEMBANTU

CERITA SEX KENIKMATAN PEMBANTU

KAKAKKU YANG BINAL

KAKAKKU YANG BINAL

RAJA88BET – KAKAKKU YANG BINALNamaku doni, aku masih duduk kelas 2 sma di salah satu sma negeri di mlng, ini awal mula aku bisa ngentot kakakku yang sexy secara tidak sengaja. aku punya kakak namanya priska yg sebentar lagi akan lulus kuliah, kakakku termasuk wanita yg cantik, meskipun gak tinggi tp kakakku mempunyai payudara yg lumayan besar, bisa dibilang kakakku ini sangat seksi, aku sering terangsang bahkan ngaceng bila melihat kakakku hanya memakai tanktop celana pendek ketat atau cd doang(gak pernah pakai bh kalau di rumah) atau pas tidur bugil (beberapa kali pernah ngintip). Pernah aku gak sengaja ngintip dia masturbasi di kamarnya. Kakakku sepertinya punya nafsu yg besar, terbukti dg seringnya dia masturbasi.

Kejadian yg gak akan aku lupain itu terjadi saat ayah & ibuku pergi selama 4 hari karena ada urusan ke surabaya dan saat itu hanya ada aku di rumah karena kakakku belum pulang kuliah, sore itu karna gak ada kerjaan aku nonton tv, terlihat di tv tayangan yg membuat aku terangsang, karna terangsang langsung saja aku ke kamar untuk onani sambil lihat bokep yg ada di laptop. Karna di rumah aku hanya sendiri jadi aku biarin pintu kamar gak terkunci, terlalu asyik onani sampai aku gak tahu kalau kakakku sudah pulang, tanpa kusadari ternyata kakakku ngintip lewat celah di pintu tentang apa yg kulakukan. Tiba2 kakakku masuk ke kamar, aku pun kaget dan takut kalau kakakku marah trus bilang ke ortu. Sungguh gak disangka kakakku justru bilang,”daripada cuma ngocok mending sini ngentot aja sama mbak” belum sempet aku bicara kakakku langsung mengunci pintu kamar langsung kemudian bergegas megang kontolku dan mengulumnya.
“apa maksudnya ini mbak aku kan adikmu sendiri” kataku
“udah kamu diem aja gak usah munafik kamu sering ngaceng kan kalo liatin aku habis mandi apalagi kalo aku keluar ngambil handuk trus kamu juga sering ngintipin aku mandi kan sambil ngulum kontolku naik turun” jawabnya. memang aku sering liat kakakku keluar kamar mandi telanjang buat ngambil handuk soalnya handuknya ditaruh didepan pintu kamar mandi.
“iya kok mbak tahu” kataku, “ya iyalah keliahatan banget nyembul dicelana” jawabnya
rasanya nikmat tak terkira saat dia terus mengulum dan menjilati kontolku setelah puas mengulum kontolku, kakakku langsung membuka semua pakaiannya sehingga sekarang terlihat jelas payudaranya yg montok dan memeknya yg indah dengan sedikit bulu halus, “mbak sexy banget” kataku, kakakku langsung mencium bibirku sambil berkata “sekarang nih lihat sepuasnya gak usah ngintip lagi” aku hanya tersenyum, sambil menuntun tanganku untuk memegang payudaranya yg montok, otomatis aku pun langsung meremas & menjilati payudaranya dan tangan kananku ngobel memeknya “akhh.. enak bgt don” ucap kakakku,

lalu kakakku menyuruhku untuk tiduran dan dia langsung mengarahkan memeknya ke mukaku seperti posisi 69, tanpa disuruh ak pun langsung menjilati memeknya yg sudah basah, begitupun kakakku yg langsung mengulum kontolku. Sepertinya kakakku sudah gak tahan dia langsung bangun dan mengarahkan memeknya ke kontolku di posisi WOT, perlahan dia memasukkannya dan bless akhirnya seluruh kontolku masuk semua di memek kakakku sendiri “kontolmu manteb juga ya don lebih enak daripada timun yang sering mbak pake”

katanya, sungguh sangat nikmat hal yg kurasakan saat ini bisa ngentot kakak yang kujadikan bahan fantasi ngocok tiap hari kemudian kakakku menggerakkan tubuhnya naik turun ” aaah.. ahh.. ahh..” hanya kata itu yg keluar dari mulut kakakku, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menciumku lagi, ak pun juga meremas-remas payudara kakakku lalu kakakku mempercepat gerakannya dan dia sepertinya sudah orgasme
“kontolmu bener-bener enak don.. mbak sampai keluar secepat ini” kata dia
“enak mana sama kontol pacarmu itu” jawabku
“pacarku belum pernah ngapa-ngapain aku ” kata kakakku,
“kok kakak udah bolong tadi masuknya gampang banget” tanyaku
“dulu dilubangin sama timun, mbak terlalu nafsu trus nyodoknya terlalu keras masuk semua timunnya hihihi” katanya sambil tertawa. “Doggy yuk don” katanya lagi.
aku langsung paham lalu dia menungging dan berkata “cepet masukkin” ” iya mbak, enak mana sama timun di lemari es itu” jawabku tanpa basa basi langsung kumasukkan lagi kontolku ke memeknya “aaaakh aaakkh ya enak kontolmu don” teriak kakakku
aku pun menggerakkan tubuhku maju mundur sampai kakakku orgasme untuk kedua kalinya, kini kita ganti posisi lagi, sekarang kakakku yg tiduran, kurentangkan kedua kakinya dan kumasukkan lagi kontolku ke lubang memeknya, kugerakkan tubuhku maju mundur lagi ” kamu kuat banget kamu don padahal mbak udah keluar 2 kali tp km masih kuat” ucapnya.
tapi aku diam sambil tersenyum dan kembali meremas-remas payudara kakakku, kujilati putingnya sambil tetap menggerakkan kontolku keluar masuk memeknya, lalu aku ganti gaya lagi kakakku aku suruh menyamping lalu aku masukkan kontolku ke memeknya dari belakang sambil kakinya direntangkan ke atas. Tangan kananku meremas payudaranya yang montok aku ciumi bibirnya dan aku jilati lehernya tangan kiriku ngucek-ucek itilnya.

“aakkh..aakkh..aakkh terus don genjot yang kenceng” katanya
saat aku merasa mau keluar kupercepat genjotanku di memeknya.
“mbak aku udah mau keluar” kataku, ” keluarin di dalam aja mbak juga mau keluar lagi” jawabnya dan akhirnya crooot aku tekan dalam-dalam ke memek kakakku dan kakakku juga keluar bersamaan aku rasain memeknya berkedut-kedut rasanya luar biasa. Kulihat spermaku sedikit mengalir keluar dari memeknya saat kucabut kontolku kemudian kakakku tidur terlentang disebelahku.
“makasih ya mbak” kataku ” hooh, km hebat bgt don, nanti kita ngentot lagi ya mumpung papa mama keluar” ucapnya sambil pegang-pegang kontolku
“siap kapanpun mbak minta” kataku “idih maunya tapi janji ya jangan bilang sapa-sapa” jawabnya sambil tertawa.
“satu lagi lain kali kamu harus pake kondom kalo ngentot sama aku, aku gak mau hamil karena kamu entar apa kata orang apalagi kita kakak adek” kata kakakku sambil keluar kamar, kakakku pun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
“oke mbakku sayang” sambil pake celana sama kaos buat beli kondom di

indomrt ujung gang. tapi pas lewat kamar mandi lihat kakakku telanjang lagi mandi aku ngaceng lagi celanaku sama bajuku aku lepas trus aku suruh kakakku nugging pegang bak mandi aku genjot kakakku sekali lagi di kamar mandi sambil aku remas-remas payudara aku cium bibirnya sama lehernya. setengah jam aku genjot kakakku di kamar mandi aku keluar lagi aku crot sekali lagi dalam memeknya rasanya memeknya berkedut-kedut memeras spermaku luar biasa rasanya. setelah itu aku mandi bareng kakakku setelah mandi baru ke indomrt beli kondom.
malamnya aku ngentot sekali lagi dengan kakakku karena kecapaian aku tidur bugil bareng kakakku, hari berikutnya juga sama sampai papa mama pulang ke rumah. Setelah kejadian tidak sengaja itu minimal seminggu dua kali kakakku ngajakin ngentot atau kalo rumah lagi sepi. tapi aku selalu pake kondom kalo ngentot dengannya atau klo dia bilang aman crot di dalem untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

BU HAJI IDAMAN

BU HAJI IDAMAN

RAJA88 BET – BU HAJI IDAMAN Perkenalkan gua Steven. Langsung aja. Waktu itu gua berumur 18 tahun dan kuliah semester 1. Gua asalnya dari Jakarta dan kuliah di Kota Padang, kota syariah.
Kayak anak kos biasanya, awal ngekos di kota ini gua dapat kos-kosan yg gak nyaman. Tempatnya kotor, sumpek dan berisik. Gua dulu milih ngekos di sana, karna bayar kos-nya bulanan. Gua mikir yg penting dapat kos dulu. Nanti kalau gak betah bisa pindah. Masih dua bulan di kos itu, gua gak betah, gua cari kos baru.
Dengan minjam motor teman, gua mulai nyari kos. Udah 4 kos yg gua jumpai, belum ada yg pas. Stelah itu gua liat kos-kosan yg bentuk rumah. Gua ketok pagarnya.
Kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya berjilbab.
“Ada apa ya?”
“Apa benar ini kos Putra bu? Ada kos kosong?”
“Waduh, penuh semua tu”.
Dengan muka muram gua Tanya lagi,
“Ibu tau gak, dimana lagi kos2an kayak gini yg masih ada yg kosong?”
“Kurang tahu ya. Emang kenapa nyari yg kayak gini?”
“Kemarin di kos sbelumnnya, saya pernah kena DB karna kos-kosannya kotor, banyak sarang nyamuk. Saya mau cari kos-kosan yg bersih dan nyaman. Oh, Kalau gitu saya pergi dulu ya bu, nyari kos lagi.”
Tiba-tiba.. “Eh, tunggu dulu. Anak ke-2 ibu baru ketrima kuliah di Jawa, jadi kamarnya sekarang kosong. Sebenarnya, kamarnya gak disewakan, tapi karna ibu kasian liat kamu, kamu liat2 aja dulu mana tau cocok.”
Setelah lia-liat kamarnya, gua suka. Gua pun setuju.
Rumah itu ada dua lantai, lantai dua buat kos-kosan, lantai 1 buat kamar pemilik rumah sama pembantu.
Kamar yg mau gua sewa ini di lantai 1, bagian belakang rumah, dekat kamar mandi.
“Oh, iya. Nama kamu siapa nak?”
“Steven bu”.
“Wih, namanya kayak nama orang barat. Cocoklah buat kamu, kamu kan tinggi, putih, ganteng lagi”.
Gua pun tersipu malu.
“Nama ibu, Nancy. Anak-anak kos di sini biasa manggil ibu, Bu Haji”.
Berjalannya waktu, gua tau kalau keluarga Bu Haji ini mrupakan keluarga terpandang. Suaminya adalah manajer persuhaan semen ternama di kota ini. Bu Haji hanya seorang rumah tangga, tapi beliau sering menghadiri pengajian dan Darma Wanita.
Seminggu kos di tempat Bu Haji, gua ngrasa nyaman. Karna udah ngrasa nyaman, dan gak trlalu canggung lagi, kebiasaan gua kluar. Setiap pagi, waktu mau ke kamar mandi yg letaknya dekat dapur, gua hanya make celana kolor (kolor bentuk celana) sambil bawa handuk. Kluar dari kamar mandi, gua hanya make handuk aja.
Karna letaknya dekat dapur, gua sering berpapasan dengan pembantu si Surti. Si Surti ini sering ngelirik-lirik gua. Surti ini umurnya 35 tahun, janda anak 2. Anaknya tinggal dikampung sama orangtua si Surti. Surti ini pakaiannya selalu sopan, berjilbab. Tapi entah kenapa, Pernah gua ngeliat si Surti ini pakaiannya lumayan ketat, jadi lekukan badannya kliatan.
“Buset, seksi juga si Surti ini”. Dalam benak gua.
Teteknya si Surti ini toge bro. Bokongnya montok banget.
(Cerita gua pas ngentot si Surti gua ceritain lain kali aja ya bro)
Karna di kamarr gua gak ada TV, gua sering numpang nonton di ruang tamu. Gua juga sering ditemani Bu Haji nonton. Kami lumayan akrab. Bu Haji sering curhat ke gua. Semakin akrab kami, semakin sering gua perhatiin tubuh Bu Haji ini. Beliau kalau di rumah selalu pakai jilbab, dan berpakaian tertutup.
Suatu malam, pas gua nonton, Bu Haji menghampiri gua, duduk di sebelah gua. Buset, malam itu Bu Haji pakai daster tak berlengan, bahannya sutra, skilas trgambar BH dan kolornya dari luar. Gua mulai horny.
“Kamu kok belum tidur steve?” Waktu itu udah jam 11 malam.
“Belum ngantuk Bu”.
“Gini ya Steve, ibu mau ngomong serius sama kamu”
Gua deg-degan, tiba-tiba suara Bu Haji berubah serius.
“Kamu semalam, nonton film porno pakai laptop di kamar kamu ya?”
“Enggak bu, kenapa?”
“Kok ibu dengar suara berisik sambil mendesah-desah semalam dari kamar kamu?’
Mati gua, Bu Haji dengar ane kemarin pas gua ngentot si Surti yg toge itu di kamar gua.
“hhmmm… anu bu… Itu kayaknya suara radio yg saya pasang, biasa sinyalnya jelek, jadi suaranya kresek-kresek gitu”. Gua bohong.
“oh gitu, ibu kiraian suara apaan”.
Bu Haji pun langsung masuk kamar. Gua lega banget, langsung aja gua matiin TV trus masuk ke kamar gua.
Hari-hari berikutnya gua jadi sering perhatiin bu Haji. Bu Haji ini umurnya sekitar 42 tahunan tapi masih keliatan muda. Kulitnya putih, tingginya 160cm, teteknya lumayan gede ukuran 36C.
Gua pun membulatkan diri pengen ngentot Bu Haji ini, ane juga yakin dia juga kepengen ngentot sama gua, soalnya dia pernah cerita kalau suaminya terlalu sibuk kerjaan, sering pulang larut malam dan lupa sama kebutuhan istri. Perilaku Bu Haji juga mulai berubah sejak dia ngedengar desahan si Surti waktu gua kentot di kamar gua. Bu Haji kayak nyari perhatian sama gua, jilbabnya udah jarang dipakai kalau di rumah, pakaiannya daster, tpi sering daster yang gak berlengan dan agak transparan.
Suatu malam gua liat Bu Haji terlentang di sofa nonton TV diruang tamu. Bu Haji masih memakai pakaian gamis nya.
“Loh, malam-malam gini tumben nonton TV di ruang tamu bu gak di kamar?”
“Ibu baru pulang dari gathering darma wanita. Acaranya seharian, ibu capek banget. Badan pegal-pegal semua’.
Kemarin Pak Haji pergi ke Jakarta buat meeting kerjaan, rencananya 5 hari di Jakarta.
Niat jorok ane mulai muncul, “Kalau ibu gak keberatan, saya pernah diajari kake saya mijet, kalau ibu mau saya bisa mijet ibu. Gratis kok Bu”. Boro-boro diajarin mijet sama kakek ane, gua belum lahir aja kakek ane udah wafat. Yah, demi ngelepaskan hasrat seksual ane yg udah gak pernah lagi terlampiaskan sejak si Surti mngundurkan diri jadi pembantu karna diajak nikah juragan tanah di kampungnya.
“Oh, gitu, pas banget. Mijatnya di kamar ibu aja ya.”
Sejauh ini sukses piker gua. Kami langsung menuju kamar Bu Haji.
“Ibu mandi bentar ya, gerah banget”. Sambil bawa handuk dan baju ganti mnuju ke kamar mandi
15 menit kemudian, Bu Haji kluar dari kamar mandi, memakai daster bentuk kimono warna merah.
“Ini lotionnya, mijet nya pelan-pelan aja ya.” Bu haji sambil tengkurap di kasur.
Gua nelan ludah, gua udah mulai horny.
“Bu, kimononya dilepas aja gakpapakan? Biar enak mijetnya.”
“Iya bentar ya, kamu gak masalah kalau ibu buka baju di depan kamu kan?”
“Gak papa lah bu, Ibu kan udah Steve anggap ibu saya sendri”. Ane berusaha mredakan kecanggungan di antara kami.
Bu Haji pun mulai membuka kimononya membelakangai ane. Dibuka tali dipinggannya, kemudian dibuka perlahan. Kelihatan tali BH-nya warna merah, kmudian terlihat celana dalamnya warna merah juga, serasi. Disisihkan kimononya ke samping. Bu Haji pun mulai tengkurap kembali.
Gua kembali nelan ludah, kali ini makin banyak. Ahahha.
Gua mulai mijat perlahan dari arah pundak ke punggung.
“Bu, tali BH-nya dilepas gakpapakan, biar lebih enak pijatannya”. Gua mulai speak-speak iblis.
“Oh iya gakpapa, kamu aja yg ngelepas”
Perlahan gua lepas. Gua pijet lagi perlahan. Gua pijat punggungnya dari atas ke bawah samapai pinggangnya. Kmudian gua ubah jadi dari tengah punggungnya ke samping kiri kanan punggungnya. Gua sengaja agak menyamping nyentuh teteknya y granum itu.
“Punggungnya udah bu. Sekarang kakinya. Celana dalamnya dilepas, aja ya bu”.
Bu Haji cuman ngangguk, mengisyaratkan kalau gua diizinin buka celana dalamnya. Seorang Bu Haji yang terkenal religius ini, sekarang sedang bugil dan dipijet seorang laki-laki muda yg lagi horny, gua Steven. Gua pijet pantat yg super montok ini, mirip bokong Kim Kardashian bro. Gua sengaja berlama-lama mijat daerah bokongnya. Gua sengaja mijet sambil nyelipkan jari jempol dia ke belahan pantatnya. Jempol gua nyentuh lobang pantatnya dan bagian luar vaginanya. Si Bu Haji mulai gelisah, mulai terdengar desaha-desahan kecil.
“udah bagian belakangnya. Sekaran bagian depan ya”. Kata Bu haji tiba-tiba, sambil membalikkan badannya, terlentang.
Omg, gua terpana bro. Gua terdiam sjenak ngeliat ranumnya teteknya yg ukuran 36C itu, puting nya warna coklat muda. Gua liat vaginanya, rambut vaginnya rapi bro, sering dicukur seprtinya.
“husshhh.. Kok malah bengong? Ayo, pijat ibu!”
Gua mulai mijat. Yang pertama gua pijat tetekny yg ranum itu. Si Bu Haji meram keenakan.
Cuman lima menit gua mijat teteknya, gua gak tahan lagi. Gua buka baju gua, gua nunduk kea rah tetek si Bu Haji, lalu gua sodorkan mulut gua, gua sedot tu putingnya. Tiba-tiba si Bu Haji ngedorong badan gua.
“Heh, jangan Steve, dosa tau” kata Bu Haji sambil menutup badan bugilnya dengan selimut.
Sepertinya si Bu Haji tersadar kalau perbuatan kami sudah melampaui batas.
“Saya gak tahan lagi bu, udah lama saya suka sama ibu. Kemarin yg ibu dengar suara desahan dari kamar saya itu, suara si Surti lagi saya kentot. Sekarang si Surti udah gak kerja di sini lagi. Saya bingung bu, melepaskan hasrat seksual saya kemana. Atau saya sewa PSK saja kah?”
“ Jangan steve, PSK itu banyak penyakitnya. Kamu itu udah ibu anggap kayak anak ibu sendiri, ibu juga sayang sama kamu. Tapi kalau ibu membiarkan kamu ngisap payudara ibu, Ibu salah nak”
“Lebih salah mana bu, Ibu membiarkan saya ngisap payudara ibu atau saya main sama PSK?”
Sambil merenung sejenak, “Ok, tapi janji hanya sebatas menghisap ya.”
“iya bu, saya janji”.
Bu Haji mulai menurunkan selimutnya sebatas perut, sampai payudaranya kelihatan. Tanpa piker panajng, langsung gua sedot tetek ranum itu. Gua hisap teteknya bagian kiri, sambil tangan kanan gua ngremas tetek sebelahnya lagi. Gua buka mulut gua lebar-lebar seakan mau ngelahap tetek besarnya itu, gua hisap sambil gigit pelan putingnya. Kemudian gantian ke tetek sebelahnya lagi. Desahan Bu Haji mulai kencang, tangannya megang kepala gua, sambil nekan kepala gua buat mendekap teteknya. 10 menit gua mainin teteknya.
Gua udah ngebuka celana gua, gua tinggal make celana dalam aja. Gua ciumin leher si Bu Haji, berganti ke telinga bagian belakangnya, kemudian gua kulum bibirnya. Bu Haji gak nolak, malah dia meladeni ciuman gua. Lidah gua, gua mainin ke dalam mulutnya. Lidah kami beradu. Gua hisap air liurnya, Bu Haji pun ngisap air liur gua. Tangan gua ngremas kedua teteknya.
Bu Haji udah nge-fly. Selimut yg tadi nutupin bagian bawah badannya sudah tersingkap. Dia udah nafsu berat. Sambil nyiumin bibirnya, ane buka celana dalam ane. Kemudian tangan kanan gua berpindah dari teteknya kearah vaginanya. Gua raba-raba pelan vaginanya. Jari tengah gua ngegesek-gesek klitorisnya.
“hhmmm… enak sayang.. terus sayang..” Bu Haji mulai teriak-teriak kecil.
Tangan Bu Haji mulai turun mencari-cari kontol gua, kemudian di genggamnya sambil dikocoknya.
“uhhh… kontol kamu besar banget. Ibu pasti puas banget kalau kontol kamu masuk vagina ibu”. panjang kontol kira-kira 15cm dengan diameter 5 cm.
“dengan senang hati bu”. Gua hentikan ciuman gua, gua tindih si Bu Haji buat masukin kontol gua.
“pelan..pelan ya steve.”
“iya, ibu ku sayang”. Gua pegang kontol gua, gua arahkan ke vaginanya
“uhhhh… pelan sayang..” kepala kontol gua udah masuk
Gua keluar masukin kepala kontol gua pelan. Setelah si Bu Haji ini mulai keenakan, gua masuikn setengah kontol gua. Gua ngrasakan surge dunia bro, kontol gua hangat kena cairan si Bu Haji.
“hhmmmm.. nikmat banget kontol kamu steve”
“vaginamu juga enak banget, Nancy sayang”.
“bleesss…” Akhirnya kontol gua masuk semua ke vagina wanita paruh baya ini.
“trus masukin steve.. kentot aku steve. Kocok yang cepat steve”. Sisi liarnya mulai muncul.
“kontol kamu besar banget steve, lebih besar dari suamiku. Isap tetek ku steve. Kocok lebih cepat Steve. Enak banget Steve”.
Stelah 10 menit kami ngentot.. “ayo lebih kencang Steve, ibu mau kluar.” Gua pun makin mempercapat kocokan kontol gua di vaginanya.
Tiba-tiba badan Bu Haji mengejang, tangannya mencakar badannku.
“arrghhhhhh….arghhh… ibu kluar steve.”
“creettt..crett..crettt..” Bu Haji udah orgasme. Orgasmenya lumayan panjang skitar 3 menit.
“Kamu luar biasa banget Steve, baru pertama ibu ngerasa orgasme kayak gitu”.
“kamu kluarin kontol kamu bentar Steve. Kamu coba telentang Steve”. Gua pun nurut.
“Sekarang ibu yg muasin kamu.” Dia arahkan kepalanya ke kontol gua.
Dia mulai jilat-jilat kepala kontol gua. Akhirnya dimasukan kepala kontol gua kemulutnya, dikocok sambil dihisap dgn mulutnya. Wih.. asik banget bro.
“Enak banget hisapan mu sayang, terus bu, masukan smua kontol ku ke mulut ibu”. Dia masukan smua kontol gua ke mulutnya, empotannya asik banget bro. Tulang-tulang kayak ketarik smua.
Stelah lima menit, “saya gak tahan lagi bu, saya mau kluar”.
“ayo kluarin di mulut ibu steve, ibu mau ngrasain peju ana muda kayak kamu. Ibu mau telan biar awet muda”.
“crot…crot…crot..crot..crot” gua nyemprot lima kali diiringi semprotan kecil berulang kali.
“enakan man, ngentot sama ibu daripada si Surti kampong itu?”
“jauh enakan sama ibu, si Surti lebih banyak pasif dan diam kalau saya kentot. Vaginannya juga lebih ngejepit punya ibu. Apalagi blowjob-an ibu, jauh lebih enak dari si Surti, isapan ibu maut banget dah pokokny”.
“hhhhh.. kamu muji-muji, pasti ada maunya. Mau lagikan”,
“iya bu, Steve mau sampai pagi ngentottin ibu”.
“Dasar anak muda, nafsunya besar. Istirahat aja dulu. Ini minum dulu. Ayok ke kamar mandi, bersih-bersih dulu”. Di kamarnya ada kamar mandi.
Si Bu Haji ngidupin shower, dia mandi. Gua peluk dia dari belakang, gua raba-raba bagian depan tubuhnya. Gua ambil sabun, gua sabunin dia. Gua nyabunin dia gak beraturan, gua sabunin sambil ngraba tetek dan vaginanya. Si Bu Haji mulai mendesah. Dia ambil sabun yg gua pegang, dia balik nyabunin gua.
Gua bisikin ke telinganya “main di kamar mandi, pasti enak banget bu. Ibu belum pernah kan?”
Tanpa ada jawaban dia langsung nyiumin gua. Gua dorong badannya ke arah bathup. Gua ambil handuk buat alas dia duduk di pingir bath up. Gua tunduk, sambil berlutut. Gua kangkangkan kakinya. Vaginanya keliatan. Sambil tangan gua megang kakinya biar tetap kangkang, gua arahkan kepala gua ke belahan vaginanya. Gua hirup vaginanya, harum bro… gua isap klitorisnya sambil jari tengah gua masukin ke vaginanya. Gua juga tusuk-tusuk vaginanya dengan lidah gua.
“kamu pinter banget steve. Ibu pasti ketagihan.. trus sayang.”
10 menit kemudian… “ibu mau kluar steve..”
“arggghhh… cret..cret…cret…” Bu Haji orgasme untuk kedua kali.
Tanpa ngasih waktu istirahat, gua arahakan kontol gua yg udah tegang maksimal ke vaginanya”.
“blleesss…” kali ini kontol gua lebih gampang masuk, karena vaginanya udah becek bangeet. Langung gua kocok cepat.
“uhhhmmmnn… trus steve..”
“ibu seksi banget.. tetek ibu montok. Vagina ibu ngejepit. Steve jatuh cinta sama ibu”.
“hmm.. uhhh.. iya ibu juga jatuh cinta sama kontol kamu yg besar itu. Ibu bisa ngrasain urat-urat kontol kamu sayang”
Kali ini kami ngentot lebih lama, udah 15 menit belum ada tanda-tanda kami orgasme, padahal udah banyak gaya kami praktekin.
“kita pindah ke kasur aja ya bu”.
Gua suruh si Bu Haji gaya doggy.
“sini sayang, aku kentot gaya doggy. Kamu pasti suka”. Gua kentot kencang
“ahhh..ahhh.. enak banget steve”.
“sekarang kaki ibu tekuk, ibu telungkup aja”.
Gua perhatikan body si Bu Haji ini sebentar, seksi banget bro pantatnya. Sambil stengah berlutut gua masukin kontol gua ke vaginanya. Kontol gua memang gak bisa masuk smua kehalang bokongnya yang montok itu. Tapi posisi ini lebih ngebuat gua bergairah, karena kontol gua bisa ngrasakan vaginanya sekaligusnya ngrasakan gesekan ke bokong besarnya.
“Bu.. stve udah ga tahan.. mau kluar.. pantat ibu montok banget…”
“Ibu juga udah mau kluar steve. Kita kluar bareng ya..”
“arghhhh… steve kluar bu..”
“ibu juga luar sayang.. argghhhhhhh”
“crot..crot.crot..” peju gua banyak banget
“cret…cret..cret..” orgasme Bu Haji seakan menyambut peju gua..
“enak banget bu ngentot sama ibu. Steve pasti ketagihan.”
“Ma kasih sayang. Ibu juga pasti ketagihan ngentot sama kamu. Jangan bilang sama siapa-siapa ya kita pernah ngentot. Kalau kamu gak bilang siapa-siapa nanti ibu kasih hadiah.”
“beres bu. Hadiah nya apa memang bu?”
“hadiahnya.. kamu bisa ngentot dengan ibu kapan aja kalau suami ibu gak di rumah.”
“dengan senang hati bu”.
Kami pun tertidur dengan posisi masih bugil.

IBUKU KENIKMATANKU

IBUKU KENIKMATANKU

Namaku Ilman. Usiaku saat ini 22 tahun dengan tinggi 172 cm dan berat 70 kg . Aku kuliah disalah satu kampus ternama di kota Semarang, masuk dengan pilihan pertama pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru jurusan Arsitektur. Mungkin aku salah satu orang yang beruntung karena tidak mesti bersusah-susah untuk ikut ujian seleksi sampai dua atau tiga kali. Sejak pertama menginjakkan kaki di kampus ini, entah sudah berapa banyak wanita yang pernah kupacari. Kata seorang teman, aku mirip dengan bintang film ternama ibukota. Kulit putih, rambut cepak yang selalu tersisir rapi dengan minyak rambut impor kiriman pamanku dari Paris.

Namun semenjak peristiwa dua tahun lalu menimpaku, rasanya segala kemampuanku hilang begitu saja. Tak ada lagi senyum yang selalu menghiasi bibirku. Vira. Ya, itu nama wanita yang pernah menjadi pacarku itu menari-nari dalam setiap desahan nafasku. Sosoknya yang anggun bak oase di padang gersang. Tapi kejadian malam itu membuat segalanya hancur berkeping-keping hingga tak menyisakan asa. Semuanya berawal ketika hujan tiba-tiba mengguyur kami yang sedang dalam perjalanan pulang. Karena hujan sangat deras akhirnya kami memutuskan untuk berhenti berteduh di sebuah tempat. Hingga lewat tengah malam hujan tak kunjung reda. Tempat yang kami singgahi ternyata tidak berpenghuni. Semacam gubuk yang hampir rubuh karena tidak terurus. Kami menginap di tempat itu. Berdua saja. Disana aku dan Vira pun menghabiskan waktu dengan penuh gairah muda kami.

Dua bulan kemudian kuketahui bahwa Vira mengandung janinku. Aku siap bertanggung jawab meski dalam kondisi apapun. Tapi keadaan semakin memburuk, ayah Vira memaksa menggugurkan kandungannya. Beliau rupanya tidak menyetujui hubungan kami. Hal ini membuat aku dan Vira shock, tak tahu mesti berbuat apa.

Karena Mbok Minah pulang karena anaknya sakit di kampung praktis hanya aku ibu yang ada dirumah sekarang. Pagi-pagi buta aku sudah bangun. Setelah mencuci muka segera menuju ke dapur untuk melakukan aktivitas rutin. Hal pertama yang kulakukan adalah mencuci piring bekas perjamuan, karena semalam tak sempat lantaran kelelahan mengantar ibu-ibu kompleks pulang setelah arisan usai. Hampir setengah dua belas saat kutemukan Ibu terbaring di atas sofa ruang tamu menungguku pulang mengantar. Tak tega rasanya membangunkan ibu untuk menemaniku membereskan sisa-sisa perjamuan, segera kuangkat tubuh ibu menuju kamar. Peluh mengucur lewat pori-pori, tubuh ibu begitu berat. Terang saja, berat ibu sepadan dengan satu karung beras lima puluh kilogram, tinggi seratus enam puluh lima, jadi cukup menguras keringat untuk mengangkatnya ke lantai dua tempat kamarnya berada. Setelah merebahkan tubuhnya di atas springbed dan membungkusnya dengan selimut bulu domba warna putih, sekilas kuperhatikan wajah ibu yang tampak kelelahan.

Ibuku yang bernama Ani memang cantik. Di usianya yang ke 45 tahun kulitnya putih bersih seakan tak ada goresan, hidungnya mancung seperti artis Julia Roberts pemeran utama wanita di film Pretty Woman. Alis dicukur agak tipis, matanya bulat dengan tatapan sendunya yang aku sendiri bahkan tak kuat berlama-lama menatapnya. Rambutnya sebahu sedikit pirang—katanya buyut Ibu keturunan orang Belanda, sisa penjajahan dulu. Pinggulnya besar, bagus untuk melahirkan kata orang-orang tua. Dadanya masih padat berukuran 36B layaknya gadis umur dua puluh empat, namun sedikit berisi—pantas saja Ayah selalu berlama-lama dikamar berduaan dengan Ibu ketika sempat kembali dari tugas diluar kota.

Usai mencuci piring, giliran memanaskan air. Ibu senang mandi air hangat saat pagi, apalagi sehabis capek seperti ini. Dua ember cukup karena nanti akan dicampur dengan air dingin agar suhunya tidak terlalu panas, hangat kuku. Pernah suatu ketika aku lupa mencampurkan air dingin ke tempayan tempat Ibu mandi, badannya merah seperti kepiting rebus dan kulitnya sedikit mengelupas. Aku kasihan pada Ibu dan merasa bersalah, sejak saat itu aku selalu mencelupkan jari ke dalam tempayan untuk memastikan kalau airnya sudah dicampur. Pagi ini sarapannya sedikit berbeda dari menu kemarin—nasi goreng, dengan sedikit variasi yang kupelajari dari buku resep milik Mbok Minah pembantuku. Sebenarnya Ibu lebih ahli dalam memasak, tapi tak tega rasanya membiarkan tangannya teriris pisau dapur apalagi sampai bau bawang menempel hingga membuat kepalanya pening. Rutinitas seperti ini baru kujalani tiga minggu terakhir .

Hari ini, Sabtu. Adalah waktu yang sering kami gunakan untuk berlibur bersama keluarga. Hampir sebulan ayah tak kembali dari Palangkaraya. Mesti menyelesaikan beberapa proyek lagi. Dengan senang hati kutemani Ibu berbelanja persedian bulan ini di sebuah swalayan dekat kantor dinas sosial. Setelah selesai, sebelum pulang kami menyempatkan untuk singgah sebentar di butik langganan Ibu. Di sebuah manekin terpajang gaun berwarna merah maroon dengan renda melingkar di bagian pinggangnya. Spontan kutawari Ibu untuk membeli yang itu saja.

“Pasti Ibu tampak anggun dengan gaun itu” bujukku pada Ibu.

Dengan sekali anggukan segera kupanggil Mbak penjaga butik untuk membungkus gaun pilihan kami. Kemudian menuju kasir untuk membayar.

“Berapa mbak ?”

“Lima ratus dua puluh lima ribu rupiah”

“Lho, kok mahal skali mbak?” tanyaku kaget.

“Ini dari bahan sutera mas, makanya harganya mahal!!” jelas kasir sedikit tegas.

“Tidak apa-apa, Man. Silahkan dibungkus mbak” Ibu menimpali sambil memberi uang.

Kami segera pulang kerumah. Lelah rasanya berbelanja hampir seharian, tapi karena bersama dengan Ibu semuanya tergantikan. Lima belas menit kami sudah sampai. Setelah kupastikan bahwa tak ada lagi barang yang ketinggalan didalam mobil, langsung masuk kerumah kemudian menuju lantai dua. Ke kamar Ibu. Sesampainya di kamar Ibu, kurebahkan badannya diatas springbed. Karena udara panas segera kusetel kipas angin, tombol nomor dua cukup dingin untuk kamar seukuran empat kali enam.

Setelah meletakkan belanjaan di dapur, Ibu menyusulku ke kamar. Segera mengeluarkan gaun dari plastik pembungkus untuk mencobanya. Tanpa sungkan Ibu menanggalkan baju dan celana bahan spandex yang tadi dipakai berbelanja. Aku terkesima. Ini kali pertama aku melihat tubuh elok Ibu. Mataku nyalang. Segera saja Ibu memasang gaun yang tadi kami beli dan memintaku untuk menarik resleting di punggung bagian atas. Sedikit kusentuh punggung Ibu. Mulus.

Lalu Ibu membalikkan badannya ke kiri dan kanan dan berputar.

“Gimana, Man. Bagus nggak?”

“Perfect!” tukasku.

“Ayahmu pasti suka” sambil tersenyum.

Jangankan ayah, aku saja begitu terkesima melihatnya. Ibu cantik sekali. Aku membayangkan Vira yang memakai gaun itu. Pasti ia akan terlihat seperti bidadari di hari pernikahan kami. Aku menerawang.

“Man, kok melamun? Kamu jatuh hati melihat Ibu ya…”

“Ah, Ibu bisa aja. Nggak ada apa-apa kok, Bu”

Ibu duduk disebelahku lalu merebahkan tubuhnya. Aku ikut rebah di sampingnya. Ibu menyisir rambutku dengan jemarinya yang lentik. Tentram menguasai batinku. Beberapa lama kami menghabiskan waktu mengobrol tentang banyak hal, ayah yang telat pulang, kuliahku yang tak kunjung kelar, sikapku yang banyak berubah sepeninggal Vira dan obrolan kecil yang kadang membuat kami cekikikan. Sesekali terdiam dan saling tatap. Tertawa lagi dan diam. Aku sangat menikmati kondisi ini. Ibu memelukku. Panas menjalari tubuhku dan darahku berdesiran.

“Bu, boleh aku mencium, Ibu?”

“Mmm… ya bolehlah. Memangnya kamu mau mencium apanya Ibu?’ sambil mengerlingkan mata.

Kadang Ibu bersikap genit disaat-saat tertentu. Dan itu yang membuat kami serasa teman sebaya. Semenjak ayah sering keluar kota, Ibu kesepian. Saat berangkat kuliah, Ibu tinggal di rumah berdua dengan Mbok Minah. Tapi sekarang Mbok Minah pulang ke kampung, kami berdua saja menunggui rumah besar ini. Aku tak tega meninggalkan Ibu sendirian di rumah.

Aku mencium kening Ibu. Kedua pipinya. Ibu balas menciumku. Selanjutnya aku pun menindih ibu sambil berpelukan dengannya. Kucium bibirnya dengan lembut lalu turun ke leher sambil memegang kedua payudaranya. Kami pun saling menikmati percumbuan ini.

Tiba-tiba Ibu menghentikan cumbuannya sambil berkata “Man kenapa kita jadi begini? Kamu nafsu ya sama Ibu?”

“Maaf bu, aku udah gak tahan lagi soalnya Ibu cantik banget mirip sama Vira” ujarku.

“Cantikan mana Ibu sama Vira?” Tanya Ibu.

“Lebih cantik Ibu, soalnya Ibu seksi, dadanya besar, udah gitu rambut Ibu agak pirang lagi kayak Noni Belanda” kataku sambil membelai rambutnya.

“Ibu kan emang punya keturunan Belanda dari Eyang Kakung kamu, makanya kulitmu putih turunan dari Ibu, tapi maaf ya rambut pirangnya cuma nurun sampai di Ibu soalnya rambutmu hitam sama kayak ayahmu” ujar ibuku sambil tersenyum

“Bu, boleh ya aku ngentot sama ibu, sekali ini aja, penisku udah keras banget nih” kataku sambil menggesek-gesekan penisku ke vaginanya yg masih tertutup gaun yg dibeli tadi.

“Hussh, kok ngomongnya jorok gitu sih? Kita kan Ibu dan Anak, masa harus berhubungan intim kayak suami istri?” Kata ibuku menolak.

”Terus yg kita lakuin tadi apa gak kayak suami istri Bu? Balasku pada Ibu sambil meneruskan gesekan penisku pada vaginanya

“Ya kan tadi beda nak, tadi Ibu kira kamu cuma mau cium kening Ibu eh tahunya malah kebawa suasana hhsss” ujar ibuku yg mulai terangsang dengan gesekan penisku.

“Tuh kan Ibu udah mulai nafsu, aku lepas aja ya gaunnya, aku ngerti kok Ibu kesepian karena udah ditinggal ayah selama sebulan” ujarku padanya.

Aku pun berusaha melepaskan gaun yang ibu kenakan secara hati-hati. Kubalikkan tubuhnya lalu kutarik resleting gaunnya kebawah dan melucuti gaun Ibu secara perlahan karena gaun tersebut baru saja kami beli dari butik dengan harga mahal. Akhirnya gaun tersebut berhasil lepas secara sempurna tanpa meninggalkan robekan apapun.

Sekarang ini Ibu terbaring tengkurap hanya menyisakan BH dan celana dalamnya. Aku pun langsung melepaskan baju, celana jeans, dan celana dalamku hingga telanjang bulat, penisku yang berukuran 22 cm dengan diameter 4 cm langsung mengacung tegak mencari mangsa. Lalu secara cepat aku langsung membalikkan tubuh Ibu ke posisi terlentang seperti semula.

Ketika Ibu sudah dalam posisi terlentang, ia pun membuka matanya secara perlahan. Melihat penisku yang panjang mengacung keras tentu saja matanya langsung membelalak karena kaget bukan main melihat ukuran penisku yang sedemikian besarnya.

“Makan apa sih kamu Man? Kok penismu bisa gede banget udah gitu diameternya bikin ngeri lagi, Ayahmu aja gak segede kamu penisnya”. Ujar Ibuku sambil menelan ludah karena bernafsu.

“Kan aku punya keturunan Belanda dari Ibu makanya penisku jadi gede kayak gini”. Ujarku sambil menciuminya.

Di dalam hatiku ada terbersit rasa bangga, rupanya penisku jauh lebih panjang dari milik Ayah. “Oh Ibuku yang cantik, akan kubawa dirimu menggapai kepuasan sampai ke langit ketujuh, dan akan kusemprotkan spermaku ke dalam rahimmu sampai kau hamil Duhai Ibuku yang cantik”. Kataku dalam hati.

Aku pun mulai berusaha melepaskan BH Ibuku yang sedari tadi seperti mau “tumpah” dari BHnya karena tidak muat. Setelah lepas aku langsung menciumi dada ibuku yang besar dan kuhisap putting yg mengacung keras tanda dia terangsang atas permainanku.

“Ohhh Man, nikmat sayang terusshh jangan berhenti ahhss” ujar ibuku yang terangsang karena hisapanku.

Setelah puas mempermainkan payudaranya. Aku pun turun sambil menciumi perutnya yang mulus dan sampailah di vagina Ibuku yang masih tertutup oleh celana dalamnya sudah becek karena cairan pelumasnya sudah keluar cukup banyak.

Akhinya kulepaskan celana dalam Ibu yang menutupi vaginanya. Kulihat vagina ibuku yang merah dan jembutnya yang tercukur rapi begitu merangsangku. Oh ini jadi rahasia keharmonisan mereka berdua, pantas saja Ayah begitu sayang pada Ibu sehingga dia sanggup berlama-lama berduaan dengan Ibu di kamar ketika pulang dari luar kota. Teringat dalam diriku pernah beberapa kali mendengar suara desahan mereka berdua dari dalam kamar. Aku pun hanya tersenyum mendengar desahan ala suami istri dari kamar orang tuaku itu. Kini aku tidak hanya bisa mendengar desahan Ibuku tapi sebentar lagi aku akan menggapai kepuasan dengan wanita yang melahirkanku 22 tahun yang lalu.

Kujilati vagina ibuku yang sudah begitu becek tersebut untuk meningkatkan rangsangan pada tubuhnya. Ibuku sedari tadi hanya mampu mendesah-desah menikmati permainanku yang begitu perlahan namun pasti, membuat kami terjatuh dalam kenikmatan incest ala Anak dan dan Ibu kandung.

10 menit sudah aku menjilati vagina Ibuku yang nikmat ini. Ingin rasanya kumasukkan penisku yang putih dan panjang ini ke dalam vaginanya, namun aku menunggu permintaan langsung dari Ibuku. Sampai akhirnya hal yang ditunggu-tunggu itupun tiba.

“Ilman tolong masukkan penismu ke dalam vagina Ibu ya, Ibu udah gak tahan lagi sayang”. Kata Ibuku sambil menarik rambutku untuk menjauhi vaginanya.

“Lho, kan tadi Ibu bilang kita kan Ibu dan Anak gak boleh ngentot”. Kataku sambil menggodanya.

“Kamu ini! cepetan tusuk penismu ke punya Ibu sekarang!” ujarnya sambil agak marah menahan nafsunya yang telah terbakar.

Aku pun tanpa banyak tanya langsung naik ke atas tubuh Ibuku, kembali kucium bibirnya dan wajahnya sembari mengarahkan penisku ke dalam vagina Ibuku dibantu oleh tangan Ibu yang juga membantu untuk memuluskan masuknya penisku ke dalam vaginanya.

“Ohh besarnya penis anak Ibu, puaskan Ibu, buat Ibu melayang sayang”. Kata Ibu merasakan masuknya penisku ke dalam vaginanya.

“Ohh iya Bu, vagina Ibu juga nikmat dan sempit banget, minum jamu rapet ya makanya jadi gini”. Kataku sambil terus berusaha memasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya.

“Tahu aja kamu Man, kalo gak minum jamu rapet mana mungkin Ayahmu bakal setia sama Ibu, hihihihi.” Kata Ibu sambil tertawa kecil.

“Ihh Ibu, kenapa ngomongin Ayah sih, kan sekarang Ibu lagi sama aku jangan ngebahas Ayah dong, aku kan jadi cemburu sama Ibu”. Kataku cemburu mendengar perkataannya.

“Kamu juga tadi ngebahas Vira di depan Ibu, emangnya kamu pikir Ibu gak cemburu apa sama kamu?” Ujarnya membalas perkataanku.

“Iya aku janji gak bakal ngebahas Vira lagi di depan Ibu soalnya sekarang aku udah jatuh cinta sama Ibu Ahhhss!” ujarku sambil meneruskan genjotanku pada Ibu.

“Ibu juga jatuh cinta sama kamu Man, ayo puaskan Ibu sayang Ohhh” Katanya sambil menahan genjotanku yang semakin kencang.

Aku terus menggenjot tubuh Ibuku dengan bersemangat. Suara “Plak, Plok, Plak, Plok” begitu menggema dalam kamar ini. Untung saja Mbok Minah sedang pulang kampong dan Ayah sedang di luar kota sehingga kami aman melakukan “hubungan terlarang” yang sangat menggairahkan ini.

Kami sering berganti posisi, kadang aku yang di atas, kadang juga Ibu yang di atas, sesekali kami bercinta dalam posisi menyamping sambil menikmati wajah cantiknya, semua kami lakukan dengan penuh cinta dan nafsu.

Ibuku pun sudah 3 kali menikmati orgasmenya, sedangkan aku belum mendapatkannya kendati aku merasakan bahwa puncakku juga semakin dekat.

Setelah hampir satu jam berlalu, aku merasakan penisku mulai berkedut-kedut tanda akan keluar, dalam posisi semula (misionaris) yaitu aku di atas dan ibu di bawah, aku pun mulai meningkatkan intensitas sodokanku pada vagina Ibuku dan mulai menyodoknya lebih dalam dari biasanya. Saat sodokanku makin dalam, aku merasa ada sesuatu yang kenyal di ujung vaginanya. Aku segera sadar bahwa itu adalah rahim Ibu tempat aku dikandung dulu.

“Ohh sayang kamu mau keluar ya, kok tambah ganas nyodoknya, udah gitu kamu nyodoknya sampai ke rahim Ibu lagi ohh ohh ohh”. Ujarnya sambil mendesah-desah.

“Iya aku udah mau keluar Bu, boleh ya aku keluarin di dalam”. Kataku sambil terus menyodoknya.

“Jangan nak, nanti Ibu hamil anakmu”. Kata ibuku cemas.

“Aku udah gak tahan lagi Bu, Ohh Ohh Ohh PLAK PLOK PLAK PLOK”. Ujarku yang sudah tidak tahan lagi.

Akhirnya 5 menit kemudian, aku mulai mengejang. Kumasukkan penisku dalam-dalam sampai menyentuh mulut rahimnya dan kusemprotkan spermaku habis-habisan ke dalam tubuhnya mengingat aku sudah sebulan tidak mengeluarkan sperma.

“AHH Ibu ini dia terima spermaku OHH OHH OHH CROT CROT CROT CRUUOOOTT CRUUOOOTT CROTT CROTT AHHH”. Kataku sambil menyemprotkan spermaku ke rahimnya.

“AHH Man, kenapa kamu keluar di dalam OHH OHH CREEETT CREEETT CREEETTT CREEETT AHH”. Kata Ibuku yang juga menyambut orgasmenya.

Perlu diketahui aku menyemprotkan spermaku banyak sekali hasil “tabunganku” selama sebulan yang tidak dikeluarkan. Ada kurang lebih 15 kali semprotan ke dalam rahim Ibuku dan kuyakin ia pasti merasakan spermaku yang hangat masuk ke dalam rahimnya. Ibuku pun keluar sebanyak 7 kali, bisa dibayangkan betapa beceknya kemaluan kami.

Akhirnya setelah menngeluarkan cairan kami masing-masing aku pun ambruk di atas tubuh Ibuku. Kulihat wajahnya yang cantik memandangku sayu dengan air mata bercucuran membasahi pipinya. Aku pun mengelap air matanya dengan tanganku lalu kucium kening dan bibirnya.

“Kenapa Ibu nangis, emangya tadi aku kasar ya mainnya”. Tanyaku sembari membelai rambutnya yang sedikit pirang.

“Ibu takut hamil Man, sekarang ini Ibu lagi masa subur, apalagi tadi sperma kamu keluarnya banyak banget lagi di rahim Ibu, kalo nanti jadi anak gimana?” katanya sambil terisak-isak

“Udah Bu gak apa-apa, nanti kalo Ibu hamil aku bakal tanggung jawab kok, inikan anakku juga Bu.”. Kataku berusaha menenangkannya walaupun aku tahu kalo Ibu hamil maka Ayah lah yang akan bertanggung jawab secara status dia masih sah sebagai suami Ibu.

“Tapi kan kamu anak Ibu Man, masa anak ngehamilin Ibunya sendiri sih”. Kata Ibuku disela tangisnya yang mulai mereda.

“Ya mau gimana lagi Bu, mungkin ini memang udah jadi takdir kita.” Ujarku sambil mencium keningnya.

Akhirnya Ibuku pun berhenti menangis dan mulai terlelap karena kelelahan. Sementara aku masih terjaga sambil menindih tubuh Ibu dan menikmati paras cantiknya yang sedang terlelap.

Setengah jam kemudian, aku yang masih terjaga dalam posisi menindih Ibuku mulai merasakan getaran nafsu kembali untuk menyetubuhinya. Di saat ia tertidur aku pun mulai menyodoknya pelan sambil mencium kening dan pipinya. Persetubuhan yang kedua ini kulakukan saat Ibu sedang terlelap. Aku berusaha untuk tidak membangunkannya yang sedang tidur kelelahan.

Namun karena sodokanku terlalu pelan, sulit bagi diriku mencapai orgasme yang kedua. Maka kupercepat sodokanku dan kumasukkan penisku lebih dalam hingga menyentuh mulut rahim Ibuku. Karena kencangnya sodokan penisku membuat cairan pelumas dari vagina Ibu kembali keluar dan perlahan-lahan Ibu pun terbangun dari tidur lelapnya.

“Kok masih belum puas sih kamu Man, padahal tadi kan kamu udah keluar banyak di rahim Ibu”. Kata Ibuku yang terbangun dengan mata sayu karena masih kelelahan.

“Aku masih ingin lagi Bu, OHH OHH”. Ujarku sambil mempercepat sodokanku.

“Terserah kamu deh, Ibu mau tidur, kecapean soalnya disodok habis-habisan sama kamu tadi.” Katanya sambil kembali memejamkan matanya.

Beberapa menit kemudian aku pun merasa akan keluar lagi, kupercepat sodokanku dan mulai menusukkan penisku dalam-dalam supaya mencapai rahim Ibuku. Di sela-sela sodokanku yang makin keras ke dalam rahim Ibuku tiba-tiba ia memeluk tubuhku dan merapatkan pinggulku pada pinggulnya. Aku pun sadar bahwa Ibuku sebenarnya tidak tertidur dan hanya memejamkan mata sembari menikmati sodokanku.

“Ohh Bu, aku mau keluarin spermaku di rahim Ibu biar jadi anak kita! OHH OHH CROT CROT CROT CROT”. Kali ini hanya 7 kali semprotan tapi terasa sangat nikmat. Ibuku pun keluar sebanyak 4 kali tapi bedanya kali ini dia hanya berteriak kecil nyaris tak terdengar.

Akhirnya aku pun ambruk di atas tubuh Ibuku. Setelah puas menikmati orgasme dan wajah cantiknya, kucabut penisku dari vaginanya dan benar saja, aliran spermaku yang berwarna putih dan sangat kental itu ikut keluar dari dalam vaginanya membentuk aliran sungai kecil yang sedikit membasahi sprei. Kuambil tissue yang ada di tepi ranjang kubersihkan vagina Ibuku sekenanya lalu, kuambil bantal untuk mengganjal pinggulnya sehingga spermaku dan cairan vaginanya berhenti keluar. Untuk memastikannya aku sempat mengangkat pinggul ibuku ke atas untuk memastikan tidak ada lagi sperma yang keluar. Setelah melakukan hal tersebut aku pun langsung mengambil posisi tidur di samping Ibuku sembari memeluknya dengan erat.

Malam harinya aku terbangun, kulihat Ibu sudah tidak ada di sampingku. Kubereskan baju dan celanaku yang berserakan di lantai kamar, namun tidak kulihat gaun Ibu yang aku lepaskan tadi. Aku berpikir mungkin Ibu sudah membereskannya tadi. Kupakai celanaku lalu kuambil handuk dan mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa percintaan dengan Ibuku.

Setelah mandi dan berganti baju aku pun langsung menuju meja makan. Kulihat Ibuku sudah menunggu dengan senyum manisnya. Dia pun menyuruhku duduk untuk menikmati makan malam bersama. Selama makan malam kami tidak banyak mengobrol tapi bisa kulihat tatapan mata ibuku yang penuh arti melihatku. Aku pun membalasnya dengan senyuman manis.

Setelah makan kami pun nonton TV bersama di ruang keluarga sambil mengobrol lebih banyak, kali ini kami tidak membahas seks hanya membahas tentang kelanjutanku kalau nanti lulus kuliah dan bagaimana dalam menghadapi dunia kerja nanti. Ibu banyak memberikanku nasihat dan aku pun hanya mendengarkan nasihatnya sambil menyender di bahunya yang mulus.

Malamnya Ibu pun mengajakku tidur bersama dengannya di kamarnya. Aku dengan senang hati menyanggupinya, namun saat tidur berdua di kamar Ibu kami hanya berbaring berpelukan mesra tanpa “gituan” karena tubuh kami sudah lelah akibat bercinta sore hari tadi.

Persetubuhan itu kami lakukan terus-menerus dengan rata-rata intensitas 4-5 kali seminggu, aku pun terus menikmatinya hingga dua bulan kemudian kabar mengejutkan pun datang.

Dua Bulan Kemudian
Suatu pagi Ibu menggedor pintu kamar dan memanggil namaku. Sontak aku terbangun dan membuka pintu kamar. Kudapati Ibu persis di depan pintu dengan daster biru toska. Matanya berbinar dan bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Ada apa, Bu?” tanyaku panik.

“Man, Ibu hamil”

Ibu memelukku. Erat sekali. Aku tak bisa berkata-kata lagi dan kupeluk tubuh Ibu dengan erat. Pikiranku menerawang jauh melewati kisi-kisi jendela kamar. Ibu akan punya anak. Aku senang berbaur bingung dan sedih. Banyak tanya yang hilir mudik di kepalaku. Kenapa Ibu bisa hamil? Bagaimana perasaan ayah saat ia tahu kalau Ibu sedang hamil?

“Kamu kenapa, Man? Kok bingung seperti itu?”

“Anu..anu…” aku tergagap.

“Jangan khawatir, Ibu takkan memberitahu ayahmu”

“Tapi, ayah harus tahu, Bu!”

“Nanti saja kalau ayahmu pulang, biar tak mengganggu kerjaannya”

Perasaanku mulai tenang. Ibu benar, jangan sampai berita ini mengganggu konsentrasi ayah. Lagipula seminggu lagi ayah balik dari Palangkaraya. Semoga ayah tak menuduhku menghamili Ibu. Ayah selalu menasehatiku sesaat sebelum berangkat keluar kota kalau aku harus menjaga Ibu dengan baik dan tak berbuat hal yang memalukan keluarga. Ayah pernah berkelakar bahwa jangan sampai aku menghamili anak orang lagi, apalagi sampai menghamili Ibu. Kami bertiga pasti akan tertawa setelah ayah mengulang kelakar itu sehabis sarapan.

Namun kelakar Ayah kali ini membawa kenyataan, aku sekarang sudah menghamili Ibu. Buruk sekali memang perbuatanku, dulu aku menghamili Vira pacarku hingga dia menggugurkan kandungannya, sekarang justru Ibuku sendiri yang kuhamili. Aku pun hanya bisa berdoa semoga perbuatanku dan Ibu tidak diketahui Ayahku dan dia merasa bahwa anak di kandungan istrinya adalah benih darinya. Semoga.
Seminggu kemudian pada malam harinya Ayah akhirnya tiba dirumah. Aku dan Ibu menyambutnya dengan antusias. Ayah membawakan kami banyak oleh-oleh dari Palangkaraya. Setelah membuka oleh-oleh dari Ayah kami pun menuju meja makan untuk makan bersama. Aku dan Ayah memuji masakan Ibu pada malam itu karena porsinya yang banyak dan terasa lezat. Di waktu makan Ayah menanyakan apa saja yang kami lakukan selama 3 bulan ia berada di luar kota dan menanyakan apakah aku menjaga Ibu dengan baik. Ibu menjawab bahwa selama 3 bulan ini aku dan Ibu menunggui rumah dan ketika akhir pekan jika aku tidak ada acara dengan teman kami berdua biasa jalan-jalan menemani Ibu belanja atau makan berdua di restoran. Ayah memujiku karena telah menjalankan tugas dengan baik. Makan malam saat itu banyak diselingi canda tawa dari Ayah, aku pun sesekali menanggapi candaannya begitu juga dengan Ibu.

“Hebat kamu ya Man, bisa gantiin tugas Ayah buat jagain Ibu kita yang cantik ini hehehehe”. Canda Ayahku yg dibalas dengan cubitan ringan dari Ibuku

“Iya dong yah, nanti kalo gak dijagain bisa-bisa Ibu diapa-apain lagi sama orang kan nanti kita yang repot”. Balasku pada Ayah.

“Tapi kamu gak ngehamilin Ibu kamu kan kayak sama Vira dulu? Awas ya kalo sampe kayak gitu tak jadikan rawon dagingmu itu hahahahaha”. Balas Ayahku

“Ih Ayah becandanya kok gitu, Ilman kemaren jagain Ibu dengan baik kok, Ya gak Man?”. Tanya Ibuku sambil mengerlingkan matanya

“Tau nih Ayah, bukannya ngasih motivasi malahan ngungkit-ungkit masa lalu”. Kataku sambil memanyunkan bibir.

“Maaf deh, Ayah cuma bercanda kok, yaudah dilanjut gih makannya nanti keburu dingin lagi. Ujar Ayahku meminta maaf dan mengalihkan pembicaraan.

“Oh Ayah maafkan aku, sebenarnya selama 3 bulan kepergianmu kemarin, aku sudah menanamkan benih spermaku ke dalam rahim istrimu yaitu Ibu kandungku sendiri, semoga kau mau menerima anak dalam kandungan Ibu itu sebagai anakmu”. Kataku dalam hati.

Selesai makan aku dan Ibu menuju ruang keluarga untuk menonton TV sementara Ayah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sewaktu menonton aku memberanikan diri untuk bertanya pada Ibu.

“Bu, usia kandungan Ibu udah berapa bulan?”. Tanyaku padanya.

“Udah hampir sebulan sih Man, memangnya kenapa?”. Balas Ibuku.

“Aku takut Ayah tahu perbuatan kita Bu, aku ngerasa bersalah waktu ngobrol pas makan malam tadi”. Kataku sambil menyenderkan kepalaku pada bahunya.

“Udah kamu gak usah pikirin itu sayang, biar nanti itu urusan Ibu buat ngeyakinin Ayahmu, sekarang mendingan kamu fokus buat nyelesaikan skripsimu biar nanti bisa lulus dan dapet kerjaan”. Kata ibuku menenangkanku dan mengalihkan pembicaraan.

“Makasih ya Bu buat pengertiannya, nanti aku bakal berusaha nyelesaikan skripsiku biar nanti bisa bahagiain Ibu”. Kataku sambil beringsut tidur di pahanya yang mulus sembari mencium perutnya yang sekarang terisi “dedek bayi” hasil semprotan spermaku ke rahimnya selama 3 bulan belakangan ini.

Ibuku pun tersenyum sambil membelai kepalaku dan memegang tanganku untuk diusap-usapkan ke perutnya yang sedang “berisi” ini. 10 menit kemudian ketika Ayah selesai mandi, aku pun bangun dan minta izin Ibuku untuk tidur karena mataku yg sudah berat.

Keesokan malamnya, aku mendengar suara desahan dari kamar orang tuaku, rupanya mereka tengah melepas kangen selama 3 bulan ini. Aku berinisiatif untuk mengintip apa yang terjadi di dalam sana. Saat aku melihat ke dalam, terlihat Ayah sedang menindih Ibu dan menyodok vaginanya dengan kencang, mereka mendesah-desah dengan hebat.

“Oh bu, punyamu kok makin tebel ya dibanding sebelum Ayah tinggal 3 bulan kemarin, Ayah jadi keenakan ini Ohh Ohh Ohh”. Kata Ayahku sambil mendengus-dengus.

“Ayah juga making ganas aja, waktu 3 bulan di Palangkaraya beneran “puasa” atau malah “jajan” sama cewek disana Ohh Ohh Ohh”. Tanya Ibuku yang juga ikut mendesah karena sodokan Ayah.

“Ayah disana beneran puasa kok Bu, soalnya cewek disana gak ada yang secantik Ibu Ohh Ohh Ohh”. Balas Ayahku.

“Ih Ayah udah tua masih aja gombal”. Kata Ibuku sambil mencubit hidung Ayahku yang mancung.

Pergumulan itu pun berlanjut hingga 10 menit kemudian mereka menggeram bersama sambil mengeluarkan cairan masing-masing. Tubuh Ayahku pun ambruk menindih tubuh Ibuku sambil meresapi sisa-sisa kenikmatan persetubuhan mereka tadi.

Setelah selesai menonton persetubuhan mereka, aku pun pergi ke kamar untuk meredakan nafsuku dengan bermasturbasi sembari membayangkan persetubuhan dengan Ibuku. Setelah keluar cairan spermaku, walaupun terasa kurang nikmat tapi nafsuku lumayan mereda dan akhirnya aku pun tertidur lelap hingga keesokan harinya.

Beberapa hari kemudian, aku pun kembali aktif kuliah karena masa liburan sudah usai. Aku pun berusaha sesuai dengan janjiku pada Ibu untuk menyelesaikan kuliahku yang tinggal sedikit lagi. Aku dan Ibu masih melakukan hubungan seks secara teratur walaupun tidak sesering seperti waktu aku libur dikarenakan kesibukan skripsi.

Sebulan kemudian waktu sore hari aku mendengar suara percakapan dari kamar orang tuaku.

“Ibu kok bisa hamil sih, padahal kan usia Ibu udah cukup tua lho, udah 45 tahun”. Tanya Ayahku keheranan.

“Ya jelas masih bisa Yah, walaupun usia Ibu udah 45 tahun tapi Ibu masih produktif dan gak pernah pake KB. Inget gak sebulan lalu waktu Ayah baru pulang dari Palangkaraya, keesokan malamnya Ayah setubuhin Ibu habis-habisan kan sampai sperma Ayah keluar di dalem rahim Ibu banyak banget? Nah waktu itulah Ibu lagi masa subur-suburnya”. Kilah Ibuku sambil beralibi.

“Yaudah lah, kalo udah terlanjur hamil mau diapain lagi, yang penting jaga kandunganmu ya Bu jangan sampai kecapean. Maafin kata-kata Ayah yang tadi ya”. Kata Ayahku sambil memeluk tubuh Ibuku dengan erat.

“Gak apa-apa yah, mungkin udah takdir kita untuk punya anak lagi di usia segini”. Jawab Ibuku yang juga membalas pelukan Ayahku dengan erat.

Melihat pertengkaran kecil mereka mereda aku pun langsung pergi ke kamarku lalu menguncinya. Di dalam kamar aku menangis menyesali perbuatanku karena gara-gara akulah Ayah dan Ibu sempat bertengkar kecil tadi perihal kehamilan Ibu. Untung saja mereka berdua cepat saling bermaafan dan keadaan kembali membaik. Aku bertekad untuk menyelesaikan skripsiku lebih cepat agar bisa membahagiakan Ayah dan Ibu plus “dedek bayi” yang ada di kandungan Ibu saat ini.

Malam harinya sewaktu di ruang makan, Ayah memberitahukan padaku bahwa aku akan punya “adik” lagi. Aku pun pura-pura terkejut dan senang mendengar berita ini. Ayah berpesan padaku untuk tidak menyusahkan Ibuku yang sedang hamil dan juga bergantian menjaga Ibu kalau ia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku pun mengiyakan pesan Ayah dan berjanji untuk menjaga Ibu dan “adikku” yang ada di dalam kandungannya.

Setelah makan seperti biasa aku dan Ibu langsung menuju ruang keluarga untuk menonton TV, sedangkan Ayahku menuju ruang kerjanya karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Di sela-sela menonton TV kami pun mengobrol perihal kehamilan Ibu.

“Ibu pintar ya bisa ngeyakinin Ayah kalo bayi dalam kandungan Ibu ini dari benihnya Ayah, padahal kan bayi ini”. Kataku sambil mengusap perut Ibu.

“Itu udah jadi tugas Ibu sayang, yang penting sekarang kamu fokus sama skripsiku aja”. Kata Ibuku memotong kata-kataku yang tidak aku selesaikan tadi.

Aku pun langsung memeluk Ibuku dengan satu tangan dan mencium bibirnya sembari satu tanganku yang lain mengusap-usap perutnya sebagai tanda sayang. Ibu menegurku karena Ayah sedang ada di rumah. Aku pun menghentikan aksiku lalu melanjutkan nonton TV dengan Ibu sambil bersikap biasa layaknya Ibu dan anak.

Beberapa bulan kemudian tidak terasa usia kandungan Ibu telah mencapai 7 bulan. Hal itulah yang membuat perut dan payudara Ibu sudah semakin membesar dan badannya mulai melar. Melihat perubahan tubuhnya tersebut membuat aku semakin bergairah padanya. Sewaktu pagi sesudah Ayah berangkat kerja, karena hari ini aku tidak ada jadwal konsultasi skripsi dengan dosenku, aku memutuskan untuk dirumah saja agar bisa menikmati tubuh Ibuku.

Aku melihat Ibu sedang tertidur kecapaian setelah menemani Ayah sarapan, untung saja ada Bi Minah yang membantu di rumah, kalo tidak pasti Ibu kewalahan mengurus rumah. Melihat itu aku berinisiatif untuk menggendong Ibu ke kamarnya, sewaktu aku membawa Ibu ke kamar aku berpapasan dengan Bi Minah dan bertanya padaku yang sedang menggendong Ibu.

“Ibu mau dibawa kemana den Ilman?” Tanya Bi Minah.

“Aku mau bawa Ibu ke kamarnya Bi, kasian soalnya tadi ngeliat Ibu ketiduran di sofa, aku takut Ibu jatuh dari sofa”. Jawabku pada Bi Minah.

“Yaudah hati-hati gendongnya den Ilman, biasa orang kalo hamil tua emang bawaannya sering kecapean melulu”. Ujar Bi Minah menasihatiku.

“Iya bi, ini aku gendongnya pelan-pelan kok”. Jawabku padanya.

“Den tadi Bibi udah bikinin nasi goreng buat Aden sarapan, nanti kalo udah bawa Ibu ke kamarnya, Den Ilman langsung sarapan ya soalnya Aden kan belum sarapan apalagi ngegendong Ibu ke kamarnya pasti lapar dan capek banget”. Ujar Bi Minah yang memang perhatiannya membuatku seperti punya Ibu kedua.

“Iya makasih ya Bi.” Ucapku berterima kasih.

“Den maaf ya Bibi gak bisa lama-lama soalnya Bibi ada acara nikahan sodara di Kendal, jadi nanti abis bersih-bersih Bibi mau langsung kesana, Oh ya nanti kalo Ibu udah bangun bilangin Bibi izin ya”. Kata Bi Minah memohon Izin.

“Iya nanti aku sampaikan ke Ibu, oh ya kapan Bibi pulangnya?”. Tanyaku padanya.

“Besok juga udah pulang kesini Den, yaudah Bibi lanjut bersih-bersih dulu ya. Kata Bi Minah.

“Ok Bi”. Tutupku

Aku pun langsung membawa Ibu ke kamarnya dan membaringkannya diatas ranjang. Setelah itu aku mengisi perut dengan sarapan dan mandi. Setelah mandi aku mengecek keadaan dan kulihat Bi Minah sudah tidak ada dirumah. Aku pun langsung menuju kamar Ibuku untuk melampiaskan nafsuku yang sudah di ubun-ubun.

Aku pun langsung membuka pintu kamar Ibuku lalu menguncinya supaya aman dan kulihat ia masih tertidur pulas disana. Satu jam sudah kutinggal rupanya Ibu masih berbaring terlentang dengan desahan nafasnya yang terdengar halus. Melihat tubuh putih mulusnya dengan payudaranya yang membesar karena hamil membuat nafsuku kian terbakar. Aku pun mulai menciumi wajahnya seperti kening, pipi, dan bibir, lalu turun ke lehernya. Pelan-pelan kubuka baju Ibuku dan celananya lalu kulemparkan ke lantai kamar sehingga ia telanjang bulat sampai tidak ada sehelai benang pun menutupi tubuhnya.

Setelah berhasil menelanjanginya, aku juga melucuti baju dan celanaku dan kulempar ke lantai sehingga aku juga sama-sama telanjang bulat seperti Ibu dengan penisku yang mengeras sempurna dan mengangguk-angguk minta dimasukkan ke Vagina Ibu

Aku pun menciumi tubuhnya dan kuhirup wangi sabun yang masih segar di tubuhnya. Rupanya Ibu sudah mandi tadi pagi sama sepertiku. Aku pun mulai menciumi payudara lalu turun ke perut, paha dan vaginanya. Kujilati vaginanya yang mulai becek karena terangsang, kemudian aku kembali ke payudaranya untuk mencium dan menjilatinya. Aku memberanikan diri untuk menghisap payudaranya dan benar saja, aliran ASI yang manis mulai masuk ke mulutku dan kutelan dengan lahap. Sungguh lezat air susu Ibuku membuatku ketagihan untuk menghisapnya.

Setelah puas menghisap air susunya, aku pun tidak sabar untuk menikmati tubuhnya yang sedang hamil itu. Selanjutnya kumiringkan tubuh Ibuku membelakangi arahku mengingat kondisi perutnya yang sedang hamil 7 bulan membuatku tak mungkin menyetubuhinya dalam kondisi konvensional. Setelah berhasil kumiringkan, kuangkat sedikit kakinya lalu kumasukkan penis besarku ke dalam vaginanya secara perlahan-lahan.

Setelah berhasil memasukkan semua penisku, barulah tubuh Ibuku mulai menggeliat mengeluarkan desahan namun matanya masih dalam kondisi terpejam. Aku merasa sepertinya Ibu sangat kelelahan sekali saat ini tidak seperti biasanya, padahal sewaktu belum hamil ketika tertidur pulas, kalau kucium bibirnya sedikit saja pasti Ibu langsung bangun. Aku pun mulai menggenjotnya dengan pelan.

5 menit sudah aku menggenjot tubuhnya sambil mendesah pelan, kulihat Ibuku mulai sadar dan membalikkan lehernya menghadap ke arahku dan memandangku dengan tatapan sayu.

“Man, Ibu lagi capek banget nih kok malahan kamu sodok sih?”. Tanya Ibuku pelan.

“Aku gak tahan waktu ngeliat Ibu tidur di sofa tadi makanya aku bawa Ibu ke kamar biar lebih bebas buat ngegenjot Ibu Ohh Ohh Ohh”. Jawabku sambil mendesah.

“Nanti ketahuan Bi Minah lho sayang”. Ujar Ibuku dengan tatapan sendunya.

“Tenang Bu, Bi Minah tadi udah izin sama aku buat ngehadirin nikahan sodaranya di Kendal, katanya sih besok baru pulang”. Kataku menyampaikan pesan Bi Minah tadi pada Ibu.

“Yaudah gak apa-apa, tapi kamu genjotnya yang pelan ya, ingat lho sama anak kembarmu yg ada di rahim Ibu”. Ibuku mengingatkan.

Aku pun melanjutkan genjotanku dengan perlahan. 30 menit sudah aku menggenjot tubuhnya. Tidak ada tanda-tanda aku untuk orgasme, sementara Ibu sudah 2 kali mencapai orgasmenya. Aku pun berinisiatif untuk mengubah posisi menjadi doggie style. Kuberanikan diri untuk meminta ia mengubah posisinya menjadi menungging.

“Bu, ganti posisi jadi nungging dong, kalo posisi nyamping kayak gini terus aku jadi tambah lama keluarnya”. Pintaku pada Ibu.

“Aduh Ibu udah capek banget ini sayang”. Keluh Ibuku.

“Ayolah Bu, sekali aja, biar aku bisa cepet keluar”. Kembali aku meminta padanya.

Akhirnya Ibu pun menuruti permintaanku untuk menungging. Aku pun pada awalnya kembali menggenjotnya dengan perlahan seperti pada posisi awal tadi. Namun, karena merasa ingin cepat keluar, kupercepat genjotanku pada vaginanya. Merasa sodokanku makin keras. Ibuku pun kembali memperingatkanku untuk melakukannya dengan perlahan.

“Man, yang pelan dong genjotnya, ada anak kembarmu ini rahim Ibu Ohh Ohh Ohh” kata Ibuku kembali mengingatkanku sambil mendesah nikmat.

“Sabar bu, bentar lagi aku juga keluar kok tenang aja”. Jawabku menenangkannya.

10 menit kemudian, aku merasakan ujung penisku mulai geli dan ingin menyemburkan isinya. Ketika akan keluar, terbayang dalam otakku ingatan rangkaian peristiwa persetubuhanku dengan Ibu dari awal sebelum hamil sampai akhirnya Ibu hamil anak kembarku sekarang. Bayangan itulah yang membuat aku menjadi lebih bernafsu dengan Ibuku saat ini dibandingkan dengan sebelumnya. Kupercepat genjotanku pada Ibu sampai pada akhirnya kutekan penisku dalam-dalam dan akhirnya keluarlah spermaku dalam jumlah yang luar biasa dahsyat.

“Ohh bu aku mau keluar, ini terima spermaku Bu Ohh Ohh CROOOOT CROOOOT CROOOOT CRUOOOT CRUOOOT CROOOOT Ahh Ahh”. Teriakku sambil mengeluarkan spermaku lebih banyak ke tubuh Ibuku dibandingkan dari biasanya.

“Ohh Man, Ibu juga keluar lagi sayang CREEET CREEET CREEET CREEET Ahh Ahh”. Balas Ibuku yang juga sudah keluar untuk ketiga kalinya.

Akhirnya aku dan Ibu pun berhasil mencapai kenikmatan maksimum dari persetubuhan kami pagi ini. Aku pun mencabut penisku dari vaginanya dan membantunya untuk mengubah posisinya dari menungging menjadi berbaring miring menghadapku. Setelah itu kami pun berbicara santai.

“Man, tadi kok Ibu ngerasa sperma kamu keluarnya banyak banget lebih banyak dari biasanya”. Ujar Ibuku keheranan.

“Iya bu soalnya pas tadi aku mau keluar aku jadi terbayang persetubuhan kita dari awal sebelum Ibu hamil pas kita baru pulang beli gaun Ibu di butik sampai terakhir Ibu hamil anak kembarku seperti saat ini”. Ujarku sembari mencium kening dan memeluknya.

“Senafsu itukah kamu sama Ibu Man, sampai ngebuat Vagina Ibu banjir kayak gini”. Tanya Ibuku membalas pelukanku.

“Bukan hanya nafsu Bu, tapi aku juga mencintaimu sebagai orang yang paling berharga dalam hidupku, I Love You Ibu”. Ujarku dengan mesra.

“Love You Too Sayang”. Balas Ibuku.

Beberapa saat kemudian aku melepaskan pelukanku dan melihat spermaku keluar dari vagina Ibuku terus mengalir ke pahanya dan sedikit mengenai sprei. Aku pun berinisiatif untuk mengambil kain lap yang ada di kamar Ibu untuk membersihkan tubuh Ibuku dari aliran spermaku. Setelah selesai kami pun tertidur berdua sambil berpelukan mesra di kamar Ibu hingga siang harinya.

Kurang lebih 2 bulan kemudian, di usia yang ke 46 tahun Ibu akhirnya melahirkan anak kembarku di rumah sakit di rumah sakit ditemani oleh aku dan Ayah. Mereka berdua kembar beda kelamin. Setelah berembuk kami sepakat menamai mereka Rangga dan Arini. Sewaktu Ayah keluar menerima Telfon aku pun berbincang dengan Ibu.

“Man, Rangga mirip banget ya sama kamu, liat deh hidungnya yang mancung sama badannya kekar. Persis kayak waktu kamu baru lahir”. Ujar Ibuku.

“Arini juga mirip banget sama Ibu, liat aja rambutnya agak pirang gitu persis kayak Ibu”. Ujarku sambil mengamati Arini.

“Namanya juga anak kita berdua pasti mirip sama Ayah dan Ibu kandungnya dong ya gak Man”. Kata Ibuku sambil mengerlingkan matanya.

“Ehh Iya Bu hehehe”. Ujarku sambil tertawa kecil.

2 bulan kemudian akhirnya aku pun diwisuda. Setelah berjuang selama 5 tahun akhirnya aku berhasil mencapai gelar sarjana. Hari ini aku begitu bahagia karena kedua orang tuaku plus kedua “adikku” ikut meramaikan wisudaku. Ibuku dengan dandanan cantiknya yang sangat khas seperti wanita Indo-Belanda dan Ayahku yang gagah dengan jas dan dasinya plus kedua “adikku” yang lucu membuatku begitu bahagia pada hari tersebut. Saat Ayah menyingkir sebentar untuk menerima Telfon, aku pun berbincang dengan Ibu.

“Ilman, inget ya sama kedua anakmu ini, kamu harus nafkahin mereka berdua karena mau bagaimana pun mereka berdua ini darah daging kamu”. Kata Ibuku mengingatkanku sambil mengelus kepala mereka berdua yang tengah tertidur dalam kereta bayi.

“Tenang Bu, kemarin Ilman sudah dapat tawaran kerja dari perusahaan besar, gajinya juga lumayan, cuman mereka ngasih syarat untuk nunjukkin ijazah S1 kalo mau diterima kerja disana. Makanya Bu, Ilman belum bisa dapet kerjaan kemaren, tapi tenang aja kalo udah pegang ijazah Ilman yakin bisa diterima”.

“Nah gitu dong, itu baru namanya “Ayah” yang bertanggung jawab sama anaknya hihihihi”. Kata Ibuku sambil tertawa kecil.

Akhirnya kami pun saling tersenyum satu sama lain.

Halimah Ibu Kandung

Halimah Ibu Kandung

Halimah dan Surya tinggal menyewa rumah di sebuah kampung. Surya, berumur 51 tahun yang bekerja sebagai buruh kontrak menebang hutan seringkali masuk ke hutan hingga berhari-hari lamanya, malah kadang kala hingga sebulan tak pulang ke rumah. Manakala Halimah pula, 48 tahun, menjadi ibu rumah tangga sepenuh waktu menjaga anaknya Syifa yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Anaknya Mansyur, atau sering dipanggil Maman oleh temannya yang berumur 20 tahun bekerja di bengkel motor yang terletak selang 2 buah rumah dari rumahnya. Jarak umur Maman dengan adiknya memang jauh, malah Halimah dan Surya sendiri tidak menyangka bahwa mereka masih boleh menimang buah hati setelah sekian lama diterka hanya Maman sajalah anak tunggalnya.

Kerja Maman sebagai mekanik dimulai sejak dia menamatkan sekolah kejuruannya. Lantaran masalah keuangan keluarganya, dia tidak dapat melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Demi membantu keluarga, Maman bekerja di bengkel pak Abu. Berawal sebagai anak suruhan, Maman kini sudah pandai memperbaiki motor, hasil didikan pak Abu yang percaya dan yakin dengan keahlian terpendam Maman. Uang gajinya selalu digunakan untuk membantu ibu dan adiknya membeli kebutuhan lantaran bapaknya, Surya yang jarang pulang ke rumah karena bertugas di pedalaman dan jauh dari rumah.

Halimah yang merupakan ibu rumah tangga, masih cantik wajahnya. Berwajah putih berseri dengan tahi lalat di kiri dagunya, sering memakai kerudung ketika keluar rumah, menyembunyikan rambutnya yang pendek sebahu. Selalu juga Halimah merasakan kesepian menikmati hubungan suami isteri lantaran hidupnya yang selalu ditinggalkan suami. Namun apa daya, dia tetap meneruskan hidup bersama anak-anaknya. Malah, Halimah juga pernah berniat untuk selingkuh demi tuntutan nafsu yang seringkali sulit untuk dibendung, namun hati baiknya berkata tidak, lantaran statusnya sebagai isteri orang. Halimah tahu, hanya pinggulnya yang besar dan montok itulah senjatanya lantaran bentuknya yang memang semok dan menggoda. Walau pun dia cantik, bertubuh semampai namun padat berisi, buah dada yang besar (36 C) sedikit melayut karena telah berumur, perut yang agak buncit, paha dan pantat yang lebar namun karena telah berumur itulah memberi kemungkinan bahwa tak ada siapapun yang bernafsu kepadanya. Ini mendorong Halimah untuk memendamkan saja kesepiannya sendirian. Sejak suaminya masuk ke hutan 2 minggu lalu, dia tidak pernah merasakan kenikmatan seksual. Pernah juga dia mencoba masturbasi sendirian, tidak nikmat rasanya, jadi, dipendamlah saja perasaan birahinya.

Namun, sudah hendak menjadi cerita, pada suatu pagi yang indah, Syifa pergi untuk mengikuti kegiatan alam dari sekolahnya . Esok baru pulang ke rumah. Jadi tinggal hanya Halimah dan Maman saja di rumah. Oleh karena hari itu adalah hari Minggu, bengkel di tutup, maka Maman mengambil keputusan untuk bangun siang di pagi yang indah itu. Halimah yang sendirian menonton televisi merasa bosan karena tak ada teman berbagi cerita, dikarenakan anak keduanya Syifa sudah pergi bersama rombongan sekolahnya. Lantas dia teringat Maman yang sedang tidur di kamarnya.

Halimah masuk ke kamar Maman, dilihatnya anaknya itu masih berselimut di atas tempat tidur. Di gerakkan kakinya supaya bangun dari tidur. Dengan mata yang malas, Maman membuka mata. Terlihat emaknya sedang berdiri di pinggir tempat tidur meperhatikannya.

“Man, dah pukul 9.00 pagi ni. Kenapa tak bangun, Mak bosan sendirian.” Kata Halimah.

“Hmmm… bentar lagi Maman bangun…” kata Maman sambil kembali melelapkan matanya.

“Ayo bangun, sbentar lagi kalau mak datang tak bangun, mak siram dengan air.” Kata Halimah sambil tersenyum dan berlalu dari kamar anak bujangnya.

Maman, yang terjaga itu sukar hendak melelapkan matanya kembali. Terlalu sayang rasanya hendak meninggalkan tempat tidur di pagi hari Minggu yang dingin itu. Kabut yang masih menerawang menyejukkan suasana. Zakar Maman yang jadi keras sendiri setelah bangun tidur menongkat selimut yang di pakainya. Perlahan-lahan di urut zakarnya dari luar selimut, fikirannya terbayang Nur, anak pak Haji Ali yang selalu menjadi bayangan onaninya itu.

Tiba-tiba emaknya muncul kembali. Maman pun pura-pura tidur karena takut emaknya tahu kelakuannya yang sedang mengurut zakarnya yang sedang ngacung menongkat selimut itu.

“Ish.. ish.. ish… masih tak bangun lagi si bujang ni…” bisik hati Halimah.

Namun, perhatiannya tertarik kepada bonjolan yang menongkat tinggi selimut anaknya. Serta merta perasaannya berdebar. Naluri kebirahian seorang wanita yang membutuhkan sentuhan nafsu itu terus bangkit melihat kain yang menyelimuti anaknya di tongkat zakar anaknya yang sedang keras itu. Niatnya yang hendak mengejutkan Maman serta merta mati, apa yang ada di fikirannya adalah, gelora ingin melihat zakar keras milik anaknya.

Halimah yang menyangka anaknya masih tidur itu perlahan-lahan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya terasa ingin sekali memegang zakar yang sedang keras menegak itu. Sudah lama rasanya dia tidak dapat memegang zakar suaminya. Keinginannya telah mendorong Halimah untuk memberanikan diri memegang zakar Maman. Zakar Maman di pegangnya lembut. Kekerasan otot zakar anaknya menambah kebirahian Halimah untuk melihatnya lebih dekat. Perlahan-lahan Halimah membuka selimut Maman, maka terpampanglah tubuh Maman yang tidur tanpa seurat benangpun di hadapan matanya. Zakar Maman yang sudah tidak tertutup itu di usapnya lembut. Hampir sama dengan zakar milik suaminya. Halimah mengusap-usap zakar Maman dengan perasaan birahi. Nafsunya yang merindukan zakar suaminya itu telah menghilangkan kewarasannya dan membuatnya lupa bahwa dia sebenarnya sedang bernafsu memegang zakar anaknya sendiri.

Maman yang pura-pura tidur itu, berdebar-debar merasakan zakarnya dipegang emaknya. Dia tidak menyangka emaknya berani memegang zakarnya. Hendak di buka matanya, takut emaknya memarahinya pula karena terlambat bangun tidur dan menipu berpura-pura tidur. Jadi Maman mengambil keputusan membiarkan saja perlakuan emaknya terhadap zakarnya.

Sentuhan lembut tapak tangan dan jari jemari Halimah di zakar Maman membangkitkan kenikmatan kepada Maman. Zakarnya menegang setegang-tegangnya dan ini memberikan sensasi kepada Halimah untuk memegangnya lebih kuat lagi. Halimah mengocok zakar Maman dengan nafasnya yang semakin terburu-buru. Bukan main senang rasanya merasakan zakar lelaki, jadi, peluang sudah ada didepan mata, ini lah waktunya.

Maman yang masih berpura-pura tidur itu benar-benar menikmati zakarnya dikocokkan emaknya sendiri. Dia membiarkan emaknya mengocok zakarnya dan di fikirannya terbayang Nur anak pak Haji Ali yang sedang mengocoknya. Kebirahiannya akhirnya memuncak dan membuat air maninya memancut keluar dari zakarnya yang keras.

Halimah yang terkagum-kagum dengan pancutan demi pancutan air mani anaknya, Maman itu terus mengocokkan zakar anaknya hingga tak ada lagi air mani yang keluar. Aroma air mani yang sudah lama tidak menusuk ke hidungnya memberikannya satu perasaan yang melambangkan sedikit kepuasan. Air mani anaknya yang melekit di tangannya di ciumnya dan di hirupnya sedikit demi sedikit dengan penuh nafsu. Maman yang terkejut mendengar bunyi hirupan itu membuka sedikit matanya dan terlihat olehnya Halimah sedang menjilat air maninya yang berlumur di tangan. Berdebar-debar perasaan Maman ketika itu. Dia tidak menyangka bahwa emaknya mampu bertindak seperti itu.

Halimah yang puas merasakan air mani anaknya yang melekit di tangannya kembali bangun dari tempat tidur dan menyelimuti anaknya. Dia kemudian keluar dari kamar Maman dan kembali ke ruang tamu menonton tv. Terasa sayang hendak mencuci tangannya. Bau air mani lelaki yang dirindui itu terasa sayang hendak dihilangkan dari tangannya. Kalau boleh, dia ingin tangannya terus melekat dengan air mani anaknya itu selama-lamanya. Perasaan bersalah ada sedikit terpikirkan, namun, baginya ia tidak perlu dirisaukan karena perbuatannya itu tidak disadari anaknya. Dia melakukannya ketika anaknya sedang terlelap tidur.

Namun berbeda pula bagi Maman, dia benar-benar tidak menyangka bahwa zakarnya di kocokkan oleh emaknya sendiri. Malah, air maninya juga dinikmati dengan nikmat di hadapan matanya sendiri. Maman terasa malu kepada diri sendiri, juga kepada emaknya. Namun kenikmatan yang baru saja di nikmati secara tiba-tiba membangkitkan seleranya dan kalau boleh dia ingin emaknya melakukannya lagi, tetapi perasaan hormatnya sebagai anak serta merta mematikan hasratnya. Baginya, yang lebih baik adalah, merahasiakan perkara ini dan membiarkan emaknya masih menganggap bahwa dirinya sedang tidur ketika kejadian itu berlangsung.

Hari itu, mereka anak beranak berlagak seperti tak terjadi apa-apa. Masing-masing membuat kesibukan sendiri. Namun di hati masing-masing, hanya tuhan saja yang tahu
Pada sore harinya, Halimah yang selesai mengangkat pakaian dari jemuran terlihat kelibat anaknya yang sedang terbaring di sofa. Bunyi tv masih terdengar namun tidak pasti apakah anaknya sedang tidur atau tidak. Perlahan-lahan dia menghampiri anaknya dan dia melihat mata anaknya terpejam rapat. Terlintas di fikirannya ingin mengulangi kembali saat-saat indah menikmati zakar keras anaknya di dalam genggamannya.

Sementara itu, Maman yang terbaring di sofa sebenarnya tidak tidur. Dia sebenarnya ingin memancing emaknya karena kenikmatan zakarnya dikocok pagi tadi mendorongnya untuk menikmatinya sekali lagi. Dia tahu emaknya ragu-ragu memastikan apakah dirinya sedang tidur. Jadi Maman sengaja mematikan dirinya di atas sofa.

Halimah sadar, inilah waktunya yang paling sesuai untuk melepaskan nafsunya. Tanpa segan lagi, Halimah menyelak celana pendek tipis anaknya. Zakar anaknya yang gemuk dan panjang itu di pegang dan terus di kocoknya. Tidak sampai semenit, zakar anak bujangnya itu sudah mengeras di dalam genggamannya. Halimah berkali-kali menelan air liur melihat zakar yang keras di hadapan matanya itu. Semakin di kocok semakin galak kerasnya. Kepala zakar Maman yang kembang berkilat bak kepala cendawan itu di mainkan dengan ibu jarinya. Maman sedikit menggeliat karena ngilu. Serta merta Halimah memperlambat kocokkannya karena takut Maman akan terbangun.

Halimah sadar, seleranya kepada zakar anak lelakinya itu meluap-luap di lubuk nafsunya. Dia tahu risiko melakukan perbuatan terkutuk itu, lebih-lebih lagi bersama darah dagingnya sendiri. Halimah menggigit bibirnya gemas. Halimah tidak peduli, tekaknya seolah berdenyut ketagihan melihat zakar tegang anaknya di depan mata. Nafasnya semakin naik. Halimah akhirnya membuat keputusan nekat. Birahinya yang sudah semakin hilang arah itu membuat dia berani membenamkan zakar anaknya ke dalam mulutnya yang lembab itu.

Maman sekali lagi menggeliat kenikmatan. Zakarnya yang sedang di pegang emaknya tiba-tiba merasakan memasuki lubang yang hangat dan basah. Perlahan-lahan dia membuka matanya kecil. Dilihatnya zakarnya kini sudah separuh hilang di dalam mulut emaknya. Terlihat olehnya raut muka emaknya yang masih cantik itu sedang mengulum zakarnya dengan matanya yang tertutup. Hidung emaknya kelihatan kembang kempis bersama deru nafas yang semakin cepat. Inilah pertama kali Maman merasakan bagaimana nikmat zakarnya di nikmati mulut wanita. Kenikmatan yang dirasakan membuatnya tidak peduli siapa wanita yang sedang mengulum zakarnya itu. Lebih-lebih lagi, itu bukan dilakukan secara paksa. Maman cepat-cepat kembali memejamkan matanya apabila dilihat emaknya seakan ingin membuka mata.

Halimah yang yakin anaknya tidur, perlahan-lahan menghisap zakar anaknya. Perlahan-lahan dia menghirup air liurnya yang meleleh di zakar anaknya. Penuh mulut Halimah menghisap zakar Maman. Semakin lama Halimah menghisap zakar Maman, semakin dia lupa bahwa dia sedang menghisap zakar anaknya sendiri. Perasaan Halimah yang diselubungi nafsu membuatkan dia semakin galak menghisap zakar anaknya. Zakar keras yang penuh menusuk lelangit mulutnya dirasakan sungguh menggairahkan, air pelumas anaknya yang menyatu dengan air liurnya dirasakan sungguh membangkitkan selera. Sudah lama benar dia tidak menikmati zakar suaminya. Dirinya seolah-olah seperti seorang anak kecil yang senang setelah mendapat pemainan baru.

Maman semakin tidak tahan. Hisapan ibunya di zakarnya yang keras menegang itu membuat Maman semakin tak karuan. Dia nekat, apa yang terjadi, jadilah. Dia tak dapat bertahan lagi berpura-pura tidur seperti itu. Akhirnya disaat air maninya hendak meledak. Maman memberanikan dirinya memegang kepala emaknya, Halimah. Kepala ibu kandungnya yang sedang galak turun naik menghisap zakarnya itu di pegang dan di tarik rapat kepadanya, membuatkan zakarnya terbenam jauh ke tekak Halimah, ibu kandungnya. Halimah terkejut, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Serta merta dia merasakan teramat malu apabila disadarinya, anaknya sadar dengan perbuatannya, malah, anaknya memegang kepalanya sementara zakar anaknya itu semakin terbenam jauh ke dalam mulutnya. Halimah coba menarik kepalanya dan coba mengeluarkan zakar anaknya dari mulutnya namun dia gagal. Maman menarik kepala Halimah serapat mungkin ke tubuhnya dan serentak itu, memancut-mancut air mani Maman memenuhi mulut Halimah. Maman benar-benar kenikmatan.

Halimah yang sadar, zakar anaknya itu sedang memuntahkan air mani di dalam mulutnya terus diam tidak meronta. Dia membiarkan saja mulutnya menerima pancutan demi pancutan panas air mani anaknya hingga tidak dapat ditampung oleh mulutnya itu. Halimah tak ada pilihan, dia tidak dapat melepas kepalanya agar zakar anaknya memancut di luar mulutnya. Maka, dalam keterpaksaan, berdegup-degup Halimah meneguk air mani anaknya yang menerjang kerongkongannya. Cairan pekat yang meledak dari zakar anak bujangnya yang dihisap itu di telan sepenuhnya bersama air mata yang mulai mengalir ke pipinya.

Pautan tangan Maman di kepala emaknya semakin longgar, seiring dengan air maninya yang semakin habis memancut dari zakarnya. Halimah mengambil peluang itu dengan terus menarik kepalanya hingga terlepas zakar Maman dari mulutnya. Segera Halimah bangun dan berlari ke kamar. Maman yang tiba-tiba merasakan penyesalan itu segera bangun ke kamar emaknya. Pintu kamar emaknya terkunci dari dalam. Maman mengetuk pintu perlahan berkali-kali sambil suaranya lembut memanggil emaknya. Namun hanya suara isakan emaknya di dalam kamar yang di dengarnya.

“Makk… Maaf makk… Maman minta maaf mak… Man tak sengaja makk… Mak…” Rayu Maman di luar kamar emaknya.

Sementara di dalam kamar, Halimah sedang tertelungkup di atas tempat tidur. Membenamkan mukanya ke bantal dengan air matanya yang semakin bercucuran jatuh. Rasa penyesalan akibat pengaruh nafsu telah membuat dirinya seolah hilang harga diri hingga melakukan perbuatan terkutuk itu dengan anak kandungnya sendiri. Halimah benar-benar menyesal atas segala perbuatannya. Dia sadar, ini semua bukan salah anaknya. Ini semua salahnya. Halimah tersedu-sedu menenangkan tangisnya di atas tempat tidur sendirian, membiarkan anaknya, Maman sendirian membujuk minta maaf di luar kamarnya
Man.. mari makan nak…. ” ajak Halimah kepada Maman di pintu kamar anaknya.

Maman yang sedang termenung di tepi tempat tidur seolah tidak menghiraukan emaknya. Fikirannya merasa bersalah dan malu atas apa yang telah terjadi sore tadi. Halimah sadar perubahan sikap anaknya. Dia terus duduk rapat di sebelah Maman. Jari jemarinya memegang telapak tangan Maman. Di remas lembut jari jemari Maman.

“Mak.. Maman merasa bersalah mak… maman minta maaf makk…” kata Maman sambil matanya masih terus menatap kosong ke lantai.

“Man…. Mak yang seharusnya minta maaf.. Maman gak salah, kalau bukan mak yang mulai, perbuatan ini takkan terjadi…” kata Halimah.

Mereka terdiam seketika. Suasana sepi malam seolah memberikan ruang untuk ibu dan anak itu berbicara secara pribadi dari hati ke hati. Halimah menarik tangan Man yang digenggamnya ke atas pahanya yang padat berisi. Jari jemari anaknya di remas lembut, penuh kasih sayang seorang ibu kepada anak.

“Mak…. Kenapa begini mak … mmm.. boleh Man tahu?…. ” Tanya Maman sedikit gugup.

Halimah terdiam sejenak. Otaknya cepat mencari jawaban untuk pertanyaan yang terlalu sensitif dari anaknya itu. Secara tak langsung, dia gugup ingin menjawabnya. Tangannya yang memegang tangan anaknya di atas paha yang lembut itu semakin di tarik ke arah vaginanya. Fikirannya berkecamuk, buntu.

“Mak… kenapa mak…” sekali lagi Maman bertanya kepada Halimah.

“Man… susah mak mau bilang… masalah perempuan… nanti Man pasti tau … ” kata Halimah ringkas dan dia terus berdiri lalu keluar dari kamar Man, meninggalkan anaknya diam sendirian.

Man keliru dengan jawaban emaknya. Akal mudanya tidak terlalu memahami objektif jawaban emaknya. Dia hanya mampu melihat emaknya pergi keluar dari kamarnya meninggalkannya sendiri bersama seribu satu pertanyaan di kepala. Pantat lebar emaknya yang semok itu terlihat melenggok ketika melangkah keluar. Man menelan air liur melihat harta berharga milik emaknya. Hatinya berdebar, perasaannya tiba-tiba berkecamuk. Rasa kasihan dan sayang kepada emaknya yang sebelum ini terbit dari hatinya secara tiba-tiba di hinggapi oleh perasaan nafsu yang terlalu malu bagi dirinya untuk dipikirkan. Maman lantas beranjak ke dapur, terlihat emaknya sedang duduk di meja makan. Mata emaknya seolah merenung kosong, hidangan makan malam yang telah disediakan di atas meja. Perlahan-lahan Maman menghampiri emaknya, di pegangnya kedua bahu emaknya lembut. Maman menunduk dan bibirnya menghampiri telinga emaknya.

“Mak… Man janji, Cuma kita berdua yang tau…. Mak janganlah risau… Man sayang mak… ” bisik Maman di telinga emaknya.

Halimah merasakan sejuk hatinya mendengar kata-kata Maman yang lembut itu. Jari jemari Maman yang sedang memegang bahunya terasa sungguh berbeda. Hembusan nafas di telinganya membangkitkan bulu roma Halimah. Perasaan berdebar-debar menyelinap ke dadanya bersama selautan rasa sayang yang tinggi menggunung kepada anak bujangnya itu. Halimah menoleh perlahan memandang wajah Maman yang hampir rapat di pipinya. Sikap Maman kepadanya seolah mengisi sedikit kekosongan batinnya yang merindukan belaian lelaki, yaitu suaminya.

Wajah mereka saling berhadapan. Maman mengukir senyuman yang ikhlas di bibirnya, begitu juga Halimah. Pipi halus Halimah di usap Maman dengan lembut. Halimah memejamkan matanya. Bibirnya yang lembab dan tipis terbuka sedikit. Maman yang seperti di pukau dengan bisikan gendang setan itu pun tanpa ragu-ragu membenamkan mulutnya mengecup bibir emaknya. Mereka berkecupan, penuh kasih sayang. Perasaan yang sejak awalnya kasih sayang antara ibu dan anak akhirnya bertukar menjadi perasaan kasih sayang yang berlambangkan seks yang saling memenuhi dan memerlukan.

Tangan Halimah perlahan-lahan mengusap rambut anak bujangnya yang sedang hangat mencumbui bibirnya. Bibir Halimah lihai memagut bibir Maman yang nampaknya masih tidak mahir dalam permainan manusia dewasa itu. Nafas masing-masing saling bertukar silih berganti. Degup jantung dua insan itu semakin kencang, seiring dengan deru nafsu yang semakin bergelora. Halimah semakin lemah, dia terus memeluk tubuh Maman. Tertunduk Maman di peluk emaknya, mulutnya masih mengecup bibir emaknya. Gairah Maman kembali bangkit, lebih-lebih lagi apabila bayangan emaknya menghisap zakarnya di pagi dan sore hari itu silih berganti di kotak fikiran. Maman semakin berani melangkah, tangannya yang tadi memegang bahu emaknya kini menjalar ke buah dada emaknya yang masih berbalut kaos. Kekenyalan buah dada emaknya yang tidak memakai bra itu dirasakan sungguh mengasyikkan. Puting emaknya yang semakin keras dan menonjol di permukaan kaos dipelintir lembut berulang kali, Halimah semakin terangsang dengan tindakan anaknya itu. Ini mendorong Halimah untuk meraba dada anaknya yang bidang itu. Tangannya kemudian turun ke pinggang anaknya dan seterusnya dia menangkap sesuatu yang keras dan membonjol menusuk sarung yang dipakai anaknya. Zakar Maman yang semakin keras di dalam kain sarung di genggam Halimah. Di genggam zakar anaknya penuh nafsu. Perasaan penuh nafsu yang melanda Halimah mendorongnya untuk mengulangi sekali lagi perbuatannya seperti di waktu siang tadi. Halimah melepaskan kecupan di bibir anaknya. Senyuman terukir di wajahnya, mempamerkan rasa birahi yang tak terbendung lagi. Halimah melepaskan kain sarung Maman, maka jatuhlah kain sarung yang Maman pakai ke lantai dan sekaligus memperlihatkan zakarnya yang keras dan berotot itu tegak mengacung ke wajah emaknya. Halimah tau kehendak Maman. Malah, dia juga menginginkannya juga. Perlahan-lahan Halimah membenamkan zakar keras Maman ke dalam mulutnya.

Maman memperhatikan perbuatan emaknya tanpa malu lagi. Sedikit demi sedikit zakarnya di lihat tenggelam ke dalam mulut emaknya yang menggemaskan. Tahi lalat di dagu emaknya menambah kecantikan emaknya yang sedang menghisap perlahan zakarnya.

Halimah semakin galak menghisap zakar anaknya. Perasaan keibuan yang sepatutnya dicurahkan kepada anaknya sama sekali hilang. Nafsu dan kerinduan batinnya menguasai akal dan fikiran membuatnya hilang pertimbangan hingga terjerumus permainan nafsu bersama anak kandungnya sendiri. Halimah benar-benar tenggelam dalam arus birahi. Zakar anaknya yang di hisap dan keluar masuk mulutnya benar-benar memberikan sensasi kelezatan menikmati zakar lelaki yang di rindui selalu. Setiap lengkuk zakar anaknya di hisap dan dinikmati penuh perasaan. Tangan kirinya mengusap-usap vaginanya dari luar kain batik. Sungguh terlena dirinya dirasakan ketika itu, dahaga batin yang selama ini membelenggu jiwanya terasa seolah terbang jauh bersama angin. Dirinya merasakan begitu dihargai. Jiwanya semakin tenteram dalam gelora nafsu.

Maman pula benar-benar menikmati betapa nikmat merasakan zakarnya di hisap oleh emaknya. Wajah emaknya yang sedang terpejam menikmati zakarnya penuh nafsu itu memberikan satu kenikmatan yang sulit untuk di ucapkan. Matanya tertuju kepada tangan emaknya yang sedang menggosok-gosok vaginanya. Kain batik yang dipakai emaknya terlihat merosot ke bawah akibat kelakuan emaknya. Paha montok emaknya yang kelihatan lembut dan membangkitkan selera Maman. Serta merta Maman menarik zakarnya keluar dari mulut emaknya. Maman terus menunduk mengecup emaknya dan sekaligus dia memeluk tubuh emaknya. Halimah membalas perlakuan Maman dengan kembali mengecupinya. Sambil bibirnya mengecup emaknya, Maman menarik Halimah agar berdiri dan Halimah terdorong untuk mengikuti kemauan Maman. Mereka pun sama-sama berdiri dan berpelukan erat, dengan bibir masing-masing yang berkecupan penuh birahi. Maman mengusap selangkangan emaknya. Kain batik lusuh yang menutupi vagina emaknya terasa basah akibat lendir nafsu yang semakin banyak membanjiri lorong nikmat kewanitaan emaknya. Maman menyelak kain batik emaknya ke atas, mencoba mengarahkan zakar mudanya memasuki lubang kemaluan emaknya.

Halimah tahu keinginan anaknya. Sambil tersenyum, dia menyingkap kain batiknya ke atas dan berbalik menghadap meja makan, mempamerkan pantatnya yang tidak memakai celana dalam kepada anaknya. Maman seperti terpukau menatap pantat emaknya yang putih mulus dan bulat montok di hadapan matanya. Pantat lebar emaknya di usap dan di remas penuh nafsu. Usapannya kemudian semakin bernafsu, dari pinggang turun ke paha, kelentikan pinggang emaknya yang seksi benar-benar membakar nafsunya. Sementara Halimah memegang zakar Maman yang mengacung di belakangnya. Tanpa segan, Halimah menarik zakar Maman agar mengambil posisi yang memudahkan mereka menjalankan misi yang selanjutnya. Zakar Maman di tarik hingga terselip di celah kelengkangnya. Maman yang membiarkan saja tindakan emaknya itu terdorong ke depan memeluk belakang tubuh emaknya dan zakarnya terus menyelinap ke celah selangkang emaknya yang sudah terlalu licin dan becek dengan lendir nafsu. Halimah menunggingkan tubuhnya dan tubuhnya maju mundur menggesek zakar Maman di celah selangkangnya. Maman yang pertama kali menikmati pengalaman mengasyikkan itu semakin terbakar birahinya. Tangannya tak henti meraba dan meremas pantat lebar emaknya yang montok menyentuh perutnya. Halimah sudah tidak sabar lagi, tangannya segera mencapai zakar Maman yang keras di alur selangkangnya dan mengarahkannya masuk ke mulut lubang kenikmatan miliknya. Dia sudah tidak peduli zakar siapa yang sedang dipegangnya itu. Dengan sekali sentak saja, tubuhnya dengan mudah menerima seluruh daging keras anaknya menerobos lubang kemaluannya yang sudah lama merindukan tusukan zakar lelaki. Maman dan halimah saling menahan nafas, terdiam menikmati zakar dan lubangnya bertemu. Halimah membiarkan zakar hangat Maman terendam di lubuk kewanitaannya. Statusnya sebagai ibu kepada anak lelakinya itu sudah hilang begitu saja. Nafsu benar-benar menghilangkan kewarasannya sebagai ibu, hingga sanggup menyerahkan seluruh tubuhnya, malah mahkota kewanitaan yang selama ini hanya dinikmati oleh suaminya seorang, dinikmati oleh anaknya atas keinginannya dan kerelaannya sendiri. Halimah benar-benar menikmati zakar anaknya menusuk-nusuk pangkal lubang nikmatnya. Dia mengemut zakar anaknya semau hatinya, terasa seperti ingin melumat zakar itu di dalam kemaluannya.

Manakala Maman benar-benar menikmati kemutan yang dirasakan oleh zakarnya di liang senggama emaknya yang hangat itu. Seluruh otot zakarnya yang mengembang keras terasa dihimpit oleh dinding daging yang lembut dan licin. Terasa seolah zakarnya di hisap oleh kemaluan emaknya. Maman kemudian perlahan-lahan memompa zakarnya hingga kepalanya yang berkembang besar itu menggesek pangkal kemaluan wanita yang seharusnya disanjung sebagai ibu. Perasaan sayang Maman yang sebelum itu sekedar hubungan anak kepada ibu semakin dihantui nafsu yang membara. Birahi yang diciptakan ibunya mendorong Maman untuk menyayangi ibunya seolah seorang kekasih, yang rela memberikan kenikmatan persetubuhan sumbang antara darah daging. Maman tahu, dari lubang yang sedang di pompanya itulah dirinya keluar dahulu. Namun kini lubang itu sekali lagi dia masuki dengan penuh kerelaan, hanya cara dan permainan perasaan saja yang berbeda.

Begitu juga Halimah, terfikir juga di benaknya, bahwa zakar lelaki yang sedang dinikmati di liang senggamanya itu adalah milik seorang bayi yang keluar dari liang senggamanya dahulu. Namun kini, bayi itu sudah besar dan kembali memasuki liang senggamanya atas desakan batinnya sendiri. Perasaan birahi Halimah yang selama ini terpendam terasa seolah ingin meletup di dalam dirinya. Keringat semakin deras mengalir di dahi dan tubuhnya bersama nafas yang semakin cepat dan memburu. Zakar yang semakin galak dan cepat menompa kemaluannya semakin menenggelamkan Halimah dalam lautan nafsu. Akhirnya Halimah menikmati puncak kenikmatan. Halimah merasakan tubuhnya menegang karena klimaks yang telah dia tunggu-tunggu. Tubuhnya bergetar bersama ototnya yang mengejang. Zakar anaknya yang menusuk lubang kemaluannya dari belakang di himpit penuh. Pantatnya semakin di lentikkan agar zakar itu semakin kuat menghentak dasar kemaluannya. Halimah benar-benar hilang akal. Dia benar-benar dipuncak segala nikmat yang selama ini dirindukan.

Maman hanya memperhatikan perubahan demi perubahan pada tubuh emaknya. Dia tahu, emaknya baru saja mengalami satu kenikmatan yang terlalu nikmat. Belakang baju kaos emaknya nampak basah dengan keringat.

“Man… terima kasih sayanggg…. Mak sayangg Mamann… ” Kata Halimah sambil menoleh kebelakang melihat Maman yang masih berdiri gagah.

Maman hanya tersenyum, tangannya meremas-remas lembut daging lembut di pinggul emaknya. Lemak-lemak yang menambah kemontokan dan kebesaran bokong emaknya di usap penuh kasih sayang. Halimah tahu, Maman butuh kenikmatan seperti dirinya. Halimah melentikkan tubuhnya, sambil menekan zakar Maman agar tenggelam lebih dalam dan menusuk dasar kemaluannya. Bokongnya di gerakkan seperti penari dangdut di klab malam, membuat zakar Maman lebih menikmati gesekan dengan dinding vaginanya. Maman merintih kecil menahan gelora kenikmatan. Halimah tau, Maman menikmati perbuatannya.

“enak sayangg….?” Tanya Halimah manja.

“Uhhh…. Ee.. enakk mm..makk.. ooohhh…. ” jawab Maman tersengal-sengal.

Zakarnya semakin ditekan dalam. Tubuh emaknya yang padat berisi itu ditatap penuh nafsu. Halimah sekali lagi menoleh melihat Maman yang sedang bernafsu menatap tubuhnya.

“Mak cantik tak sayangg….? ” Tanya Halimah menggoda anaknya.

“Ohhh… mak cantikkk…. Mmm…mmakk… Man…. Ttt.. tak tahannn…. ” rintih Maman tak tahan di goda emaknya.

“Nanti kalau mak mau lagi boleh….? ” Tanya Halimah penuh kelembutan dan godaan kepada anaknya yang sudah semakin di ambang puncak kepuasan.

“Ohhh…. Makkkk…….. ” Maman semakin tidak tahan melihat Halimah tak henti menggodanya.

Tubuh Halimah yang menungging di tepi meja itu memberikan sensasi birahi yang meluap-luap kepada Maman. Dia benar-benar tidak menyangka dirinya telah menyetubuhi emaknya. Pantat emaknya yang besar itu semakin menaikkan nafsu Maman. Dia tidak mampu bertahan lagi. Malah, dia ingin meluapkan perasaannya kepada emaknya tentang apa yang diinginkannya, demi perasaannya yang benar-benar ingin menikmati kepuasan yang terlalu sulit untuk diungkapkan itu.

“Ooohhhhh…. Makkk… Pasti makkk… Maman… ss.. sukaa tubuh makkk…. ” akhirnya Maman meluapkan perasaannya yang ingin sekali diluapkan.

“Sayanggg…. Maman anak makkk…. Mamannn sayangg…… ” Halimah juga menikmati perasaan birahi yang sedang melanda Maman.

“Makkk….. Arrhhhhhhh….” Rintih Maman.

“Cuurrrrrr….. Cruuuttttt!!! Cruttttt….. ” akhirnya muncratlah benih jantan anak muda itu ke dalam rahim ibu kandungnya sendiri.

Maman menikmati betapa nikmatnya melepaskan air mani di dalam liang kewanitaan emaknya. Air maninya banyak menyemprot keluar dari zakarnya di dalam vagina. Halimah memejamkan mata menikmati air mani anaknya yang hangat memenuhi lubang kemaluannya. Dasar kemaluannya terasa disirami air hangat yang memenuhi segenap rongga kewanitaannya yang sepatutnya hanya untuk suaminya seorang.

Dalam posisi yang sama halimah masih terpejam matanya, menungging berpegangan di tepi meja makan. Kain batiknya yang diselakkan ke atas pinggang masih memperlihatkan pantatnya yang sedang dihimpit rapat oleh anaknya, menikmati keindahan dan kenikmatan menyetubuhi emaknya. Zakar Maman masih terendam di dalam lubuk birahi Halimah, seolah begitu sayang untuk melepaskan saat-saat manis itu hilang begitu saja. Perasaan kasih dan sayang yang selama ini diperuntukan untuk seorang ibu hilang bersama angin malam, diganti oleh perasaan kasih dan sayang yang sepatutnya hanya dimiliki oleh seorang kekasih. Halimah kepuasan, dahaga batinnya yang selama ini dirindukan akhirnya terurai sudah. Kenikmatan yang dialami sebentar tadi sama sekali tidak disesali, malah dia benar-benar menghargainya. Halimah merelakannya, disetubuhi oleh darah dagingnya sendiri, demi kepentingan batinnya. Dia tahu, dirinya kini bukan lagi dimiliki oleh suaminya seorang, malah anaknya sendiri, yang sudah menikmati tubuhnya. Anaknya kini suaminya, yang didambakan belaian penuh nafsu untuk dinikmati melebihi dari suaminya. Demi nafsu dan kasih sayang yang semakin membara, Halimah kini mencintai suami barunya….. anaknya…