Halimah Ibu Kandung

Halimah Ibu Kandung

Halimah dan Surya tinggal menyewa rumah di sebuah kampung. Surya, berumur 51 tahun yang bekerja sebagai buruh kontrak menebang hutan seringkali masuk ke hutan hingga berhari-hari lamanya, malah kadang kala hingga sebulan tak pulang ke rumah. Manakala Halimah pula, 48 tahun, menjadi ibu rumah tangga sepenuh waktu menjaga anaknya Syifa yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Anaknya Mansyur, atau sering dipanggil Maman oleh temannya yang berumur 20 tahun bekerja di bengkel motor yang terletak selang 2 buah rumah dari rumahnya. Jarak umur Maman dengan adiknya memang jauh, malah Halimah dan Surya sendiri tidak menyangka bahwa mereka masih boleh menimang buah hati setelah sekian lama diterka hanya Maman sajalah anak tunggalnya.

Kerja Maman sebagai mekanik dimulai sejak dia menamatkan sekolah kejuruannya. Lantaran masalah keuangan keluarganya, dia tidak dapat melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Demi membantu keluarga, Maman bekerja di bengkel pak Abu. Berawal sebagai anak suruhan, Maman kini sudah pandai memperbaiki motor, hasil didikan pak Abu yang percaya dan yakin dengan keahlian terpendam Maman. Uang gajinya selalu digunakan untuk membantu ibu dan adiknya membeli kebutuhan lantaran bapaknya, Surya yang jarang pulang ke rumah karena bertugas di pedalaman dan jauh dari rumah.

Halimah yang merupakan ibu rumah tangga, masih cantik wajahnya. Berwajah putih berseri dengan tahi lalat di kiri dagunya, sering memakai kerudung ketika keluar rumah, menyembunyikan rambutnya yang pendek sebahu. Selalu juga Halimah merasakan kesepian menikmati hubungan suami isteri lantaran hidupnya yang selalu ditinggalkan suami. Namun apa daya, dia tetap meneruskan hidup bersama anak-anaknya. Malah, Halimah juga pernah berniat untuk selingkuh demi tuntutan nafsu yang seringkali sulit untuk dibendung, namun hati baiknya berkata tidak, lantaran statusnya sebagai isteri orang. Halimah tahu, hanya pinggulnya yang besar dan montok itulah senjatanya lantaran bentuknya yang memang semok dan menggoda. Walau pun dia cantik, bertubuh semampai namun padat berisi, buah dada yang besar (36 C) sedikit melayut karena telah berumur, perut yang agak buncit, paha dan pantat yang lebar namun karena telah berumur itulah memberi kemungkinan bahwa tak ada siapapun yang bernafsu kepadanya. Ini mendorong Halimah untuk memendamkan saja kesepiannya sendirian. Sejak suaminya masuk ke hutan 2 minggu lalu, dia tidak pernah merasakan kenikmatan seksual. Pernah juga dia mencoba masturbasi sendirian, tidak nikmat rasanya, jadi, dipendamlah saja perasaan birahinya.

Namun, sudah hendak menjadi cerita, pada suatu pagi yang indah, Syifa pergi untuk mengikuti kegiatan alam dari sekolahnya . Esok baru pulang ke rumah. Jadi tinggal hanya Halimah dan Maman saja di rumah. Oleh karena hari itu adalah hari Minggu, bengkel di tutup, maka Maman mengambil keputusan untuk bangun siang di pagi yang indah itu. Halimah yang sendirian menonton televisi merasa bosan karena tak ada teman berbagi cerita, dikarenakan anak keduanya Syifa sudah pergi bersama rombongan sekolahnya. Lantas dia teringat Maman yang sedang tidur di kamarnya.

Halimah masuk ke kamar Maman, dilihatnya anaknya itu masih berselimut di atas tempat tidur. Di gerakkan kakinya supaya bangun dari tidur. Dengan mata yang malas, Maman membuka mata. Terlihat emaknya sedang berdiri di pinggir tempat tidur meperhatikannya.

“Man, dah pukul 9.00 pagi ni. Kenapa tak bangun, Mak bosan sendirian.” Kata Halimah.

“Hmmm… bentar lagi Maman bangun…” kata Maman sambil kembali melelapkan matanya.

“Ayo bangun, sbentar lagi kalau mak datang tak bangun, mak siram dengan air.” Kata Halimah sambil tersenyum dan berlalu dari kamar anak bujangnya.

Maman, yang terjaga itu sukar hendak melelapkan matanya kembali. Terlalu sayang rasanya hendak meninggalkan tempat tidur di pagi hari Minggu yang dingin itu. Kabut yang masih menerawang menyejukkan suasana. Zakar Maman yang jadi keras sendiri setelah bangun tidur menongkat selimut yang di pakainya. Perlahan-lahan di urut zakarnya dari luar selimut, fikirannya terbayang Nur, anak pak Haji Ali yang selalu menjadi bayangan onaninya itu.

Tiba-tiba emaknya muncul kembali. Maman pun pura-pura tidur karena takut emaknya tahu kelakuannya yang sedang mengurut zakarnya yang sedang ngacung menongkat selimut itu.

“Ish.. ish.. ish… masih tak bangun lagi si bujang ni…” bisik hati Halimah.

Namun, perhatiannya tertarik kepada bonjolan yang menongkat tinggi selimut anaknya. Serta merta perasaannya berdebar. Naluri kebirahian seorang wanita yang membutuhkan sentuhan nafsu itu terus bangkit melihat kain yang menyelimuti anaknya di tongkat zakar anaknya yang sedang keras itu. Niatnya yang hendak mengejutkan Maman serta merta mati, apa yang ada di fikirannya adalah, gelora ingin melihat zakar keras milik anaknya.

Halimah yang menyangka anaknya masih tidur itu perlahan-lahan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya terasa ingin sekali memegang zakar yang sedang keras menegak itu. Sudah lama rasanya dia tidak dapat memegang zakar suaminya. Keinginannya telah mendorong Halimah untuk memberanikan diri memegang zakar Maman. Zakar Maman di pegangnya lembut. Kekerasan otot zakar anaknya menambah kebirahian Halimah untuk melihatnya lebih dekat. Perlahan-lahan Halimah membuka selimut Maman, maka terpampanglah tubuh Maman yang tidur tanpa seurat benangpun di hadapan matanya. Zakar Maman yang sudah tidak tertutup itu di usapnya lembut. Hampir sama dengan zakar milik suaminya. Halimah mengusap-usap zakar Maman dengan perasaan birahi. Nafsunya yang merindukan zakar suaminya itu telah menghilangkan kewarasannya dan membuatnya lupa bahwa dia sebenarnya sedang bernafsu memegang zakar anaknya sendiri.

Maman yang pura-pura tidur itu, berdebar-debar merasakan zakarnya dipegang emaknya. Dia tidak menyangka emaknya berani memegang zakarnya. Hendak di buka matanya, takut emaknya memarahinya pula karena terlambat bangun tidur dan menipu berpura-pura tidur. Jadi Maman mengambil keputusan membiarkan saja perlakuan emaknya terhadap zakarnya.

Sentuhan lembut tapak tangan dan jari jemari Halimah di zakar Maman membangkitkan kenikmatan kepada Maman. Zakarnya menegang setegang-tegangnya dan ini memberikan sensasi kepada Halimah untuk memegangnya lebih kuat lagi. Halimah mengocok zakar Maman dengan nafasnya yang semakin terburu-buru. Bukan main senang rasanya merasakan zakar lelaki, jadi, peluang sudah ada didepan mata, ini lah waktunya.

Maman yang masih berpura-pura tidur itu benar-benar menikmati zakarnya dikocokkan emaknya sendiri. Dia membiarkan emaknya mengocok zakarnya dan di fikirannya terbayang Nur anak pak Haji Ali yang sedang mengocoknya. Kebirahiannya akhirnya memuncak dan membuat air maninya memancut keluar dari zakarnya yang keras.

Halimah yang terkagum-kagum dengan pancutan demi pancutan air mani anaknya, Maman itu terus mengocokkan zakar anaknya hingga tak ada lagi air mani yang keluar. Aroma air mani yang sudah lama tidak menusuk ke hidungnya memberikannya satu perasaan yang melambangkan sedikit kepuasan. Air mani anaknya yang melekit di tangannya di ciumnya dan di hirupnya sedikit demi sedikit dengan penuh nafsu. Maman yang terkejut mendengar bunyi hirupan itu membuka sedikit matanya dan terlihat olehnya Halimah sedang menjilat air maninya yang berlumur di tangan. Berdebar-debar perasaan Maman ketika itu. Dia tidak menyangka bahwa emaknya mampu bertindak seperti itu.

Halimah yang puas merasakan air mani anaknya yang melekit di tangannya kembali bangun dari tempat tidur dan menyelimuti anaknya. Dia kemudian keluar dari kamar Maman dan kembali ke ruang tamu menonton tv. Terasa sayang hendak mencuci tangannya. Bau air mani lelaki yang dirindui itu terasa sayang hendak dihilangkan dari tangannya. Kalau boleh, dia ingin tangannya terus melekat dengan air mani anaknya itu selama-lamanya. Perasaan bersalah ada sedikit terpikirkan, namun, baginya ia tidak perlu dirisaukan karena perbuatannya itu tidak disadari anaknya. Dia melakukannya ketika anaknya sedang terlelap tidur.

Namun berbeda pula bagi Maman, dia benar-benar tidak menyangka bahwa zakarnya di kocokkan oleh emaknya sendiri. Malah, air maninya juga dinikmati dengan nikmat di hadapan matanya sendiri. Maman terasa malu kepada diri sendiri, juga kepada emaknya. Namun kenikmatan yang baru saja di nikmati secara tiba-tiba membangkitkan seleranya dan kalau boleh dia ingin emaknya melakukannya lagi, tetapi perasaan hormatnya sebagai anak serta merta mematikan hasratnya. Baginya, yang lebih baik adalah, merahasiakan perkara ini dan membiarkan emaknya masih menganggap bahwa dirinya sedang tidur ketika kejadian itu berlangsung.

Hari itu, mereka anak beranak berlagak seperti tak terjadi apa-apa. Masing-masing membuat kesibukan sendiri. Namun di hati masing-masing, hanya tuhan saja yang tahu
Pada sore harinya, Halimah yang selesai mengangkat pakaian dari jemuran terlihat kelibat anaknya yang sedang terbaring di sofa. Bunyi tv masih terdengar namun tidak pasti apakah anaknya sedang tidur atau tidak. Perlahan-lahan dia menghampiri anaknya dan dia melihat mata anaknya terpejam rapat. Terlintas di fikirannya ingin mengulangi kembali saat-saat indah menikmati zakar keras anaknya di dalam genggamannya.

Sementara itu, Maman yang terbaring di sofa sebenarnya tidak tidur. Dia sebenarnya ingin memancing emaknya karena kenikmatan zakarnya dikocok pagi tadi mendorongnya untuk menikmatinya sekali lagi. Dia tahu emaknya ragu-ragu memastikan apakah dirinya sedang tidur. Jadi Maman sengaja mematikan dirinya di atas sofa.

Halimah sadar, inilah waktunya yang paling sesuai untuk melepaskan nafsunya. Tanpa segan lagi, Halimah menyelak celana pendek tipis anaknya. Zakar anaknya yang gemuk dan panjang itu di pegang dan terus di kocoknya. Tidak sampai semenit, zakar anak bujangnya itu sudah mengeras di dalam genggamannya. Halimah berkali-kali menelan air liur melihat zakar yang keras di hadapan matanya itu. Semakin di kocok semakin galak kerasnya. Kepala zakar Maman yang kembang berkilat bak kepala cendawan itu di mainkan dengan ibu jarinya. Maman sedikit menggeliat karena ngilu. Serta merta Halimah memperlambat kocokkannya karena takut Maman akan terbangun.

Halimah sadar, seleranya kepada zakar anak lelakinya itu meluap-luap di lubuk nafsunya. Dia tahu risiko melakukan perbuatan terkutuk itu, lebih-lebih lagi bersama darah dagingnya sendiri. Halimah menggigit bibirnya gemas. Halimah tidak peduli, tekaknya seolah berdenyut ketagihan melihat zakar tegang anaknya di depan mata. Nafasnya semakin naik. Halimah akhirnya membuat keputusan nekat. Birahinya yang sudah semakin hilang arah itu membuat dia berani membenamkan zakar anaknya ke dalam mulutnya yang lembab itu.

Maman sekali lagi menggeliat kenikmatan. Zakarnya yang sedang di pegang emaknya tiba-tiba merasakan memasuki lubang yang hangat dan basah. Perlahan-lahan dia membuka matanya kecil. Dilihatnya zakarnya kini sudah separuh hilang di dalam mulut emaknya. Terlihat olehnya raut muka emaknya yang masih cantik itu sedang mengulum zakarnya dengan matanya yang tertutup. Hidung emaknya kelihatan kembang kempis bersama deru nafas yang semakin cepat. Inilah pertama kali Maman merasakan bagaimana nikmat zakarnya di nikmati mulut wanita. Kenikmatan yang dirasakan membuatnya tidak peduli siapa wanita yang sedang mengulum zakarnya itu. Lebih-lebih lagi, itu bukan dilakukan secara paksa. Maman cepat-cepat kembali memejamkan matanya apabila dilihat emaknya seakan ingin membuka mata.

Halimah yang yakin anaknya tidur, perlahan-lahan menghisap zakar anaknya. Perlahan-lahan dia menghirup air liurnya yang meleleh di zakar anaknya. Penuh mulut Halimah menghisap zakar Maman. Semakin lama Halimah menghisap zakar Maman, semakin dia lupa bahwa dia sedang menghisap zakar anaknya sendiri. Perasaan Halimah yang diselubungi nafsu membuatkan dia semakin galak menghisap zakar anaknya. Zakar keras yang penuh menusuk lelangit mulutnya dirasakan sungguh menggairahkan, air pelumas anaknya yang menyatu dengan air liurnya dirasakan sungguh membangkitkan selera. Sudah lama benar dia tidak menikmati zakar suaminya. Dirinya seolah-olah seperti seorang anak kecil yang senang setelah mendapat pemainan baru.

Maman semakin tidak tahan. Hisapan ibunya di zakarnya yang keras menegang itu membuat Maman semakin tak karuan. Dia nekat, apa yang terjadi, jadilah. Dia tak dapat bertahan lagi berpura-pura tidur seperti itu. Akhirnya disaat air maninya hendak meledak. Maman memberanikan dirinya memegang kepala emaknya, Halimah. Kepala ibu kandungnya yang sedang galak turun naik menghisap zakarnya itu di pegang dan di tarik rapat kepadanya, membuatkan zakarnya terbenam jauh ke tekak Halimah, ibu kandungnya. Halimah terkejut, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Serta merta dia merasakan teramat malu apabila disadarinya, anaknya sadar dengan perbuatannya, malah, anaknya memegang kepalanya sementara zakar anaknya itu semakin terbenam jauh ke dalam mulutnya. Halimah coba menarik kepalanya dan coba mengeluarkan zakar anaknya dari mulutnya namun dia gagal. Maman menarik kepala Halimah serapat mungkin ke tubuhnya dan serentak itu, memancut-mancut air mani Maman memenuhi mulut Halimah. Maman benar-benar kenikmatan.

Halimah yang sadar, zakar anaknya itu sedang memuntahkan air mani di dalam mulutnya terus diam tidak meronta. Dia membiarkan saja mulutnya menerima pancutan demi pancutan panas air mani anaknya hingga tidak dapat ditampung oleh mulutnya itu. Halimah tak ada pilihan, dia tidak dapat melepas kepalanya agar zakar anaknya memancut di luar mulutnya. Maka, dalam keterpaksaan, berdegup-degup Halimah meneguk air mani anaknya yang menerjang kerongkongannya. Cairan pekat yang meledak dari zakar anak bujangnya yang dihisap itu di telan sepenuhnya bersama air mata yang mulai mengalir ke pipinya.

Pautan tangan Maman di kepala emaknya semakin longgar, seiring dengan air maninya yang semakin habis memancut dari zakarnya. Halimah mengambil peluang itu dengan terus menarik kepalanya hingga terlepas zakar Maman dari mulutnya. Segera Halimah bangun dan berlari ke kamar. Maman yang tiba-tiba merasakan penyesalan itu segera bangun ke kamar emaknya. Pintu kamar emaknya terkunci dari dalam. Maman mengetuk pintu perlahan berkali-kali sambil suaranya lembut memanggil emaknya. Namun hanya suara isakan emaknya di dalam kamar yang di dengarnya.

“Makk… Maaf makk… Maman minta maaf mak… Man tak sengaja makk… Mak…” Rayu Maman di luar kamar emaknya.

Sementara di dalam kamar, Halimah sedang tertelungkup di atas tempat tidur. Membenamkan mukanya ke bantal dengan air matanya yang semakin bercucuran jatuh. Rasa penyesalan akibat pengaruh nafsu telah membuat dirinya seolah hilang harga diri hingga melakukan perbuatan terkutuk itu dengan anak kandungnya sendiri. Halimah benar-benar menyesal atas segala perbuatannya. Dia sadar, ini semua bukan salah anaknya. Ini semua salahnya. Halimah tersedu-sedu menenangkan tangisnya di atas tempat tidur sendirian, membiarkan anaknya, Maman sendirian membujuk minta maaf di luar kamarnya
Man.. mari makan nak…. ” ajak Halimah kepada Maman di pintu kamar anaknya.

Maman yang sedang termenung di tepi tempat tidur seolah tidak menghiraukan emaknya. Fikirannya merasa bersalah dan malu atas apa yang telah terjadi sore tadi. Halimah sadar perubahan sikap anaknya. Dia terus duduk rapat di sebelah Maman. Jari jemarinya memegang telapak tangan Maman. Di remas lembut jari jemari Maman.

“Mak.. Maman merasa bersalah mak… maman minta maaf makk…” kata Maman sambil matanya masih terus menatap kosong ke lantai.

“Man…. Mak yang seharusnya minta maaf.. Maman gak salah, kalau bukan mak yang mulai, perbuatan ini takkan terjadi…” kata Halimah.

Mereka terdiam seketika. Suasana sepi malam seolah memberikan ruang untuk ibu dan anak itu berbicara secara pribadi dari hati ke hati. Halimah menarik tangan Man yang digenggamnya ke atas pahanya yang padat berisi. Jari jemari anaknya di remas lembut, penuh kasih sayang seorang ibu kepada anak.

“Mak…. Kenapa begini mak … mmm.. boleh Man tahu?…. ” Tanya Maman sedikit gugup.

Halimah terdiam sejenak. Otaknya cepat mencari jawaban untuk pertanyaan yang terlalu sensitif dari anaknya itu. Secara tak langsung, dia gugup ingin menjawabnya. Tangannya yang memegang tangan anaknya di atas paha yang lembut itu semakin di tarik ke arah vaginanya. Fikirannya berkecamuk, buntu.

“Mak… kenapa mak…” sekali lagi Maman bertanya kepada Halimah.

“Man… susah mak mau bilang… masalah perempuan… nanti Man pasti tau … ” kata Halimah ringkas dan dia terus berdiri lalu keluar dari kamar Man, meninggalkan anaknya diam sendirian.

Man keliru dengan jawaban emaknya. Akal mudanya tidak terlalu memahami objektif jawaban emaknya. Dia hanya mampu melihat emaknya pergi keluar dari kamarnya meninggalkannya sendiri bersama seribu satu pertanyaan di kepala. Pantat lebar emaknya yang semok itu terlihat melenggok ketika melangkah keluar. Man menelan air liur melihat harta berharga milik emaknya. Hatinya berdebar, perasaannya tiba-tiba berkecamuk. Rasa kasihan dan sayang kepada emaknya yang sebelum ini terbit dari hatinya secara tiba-tiba di hinggapi oleh perasaan nafsu yang terlalu malu bagi dirinya untuk dipikirkan. Maman lantas beranjak ke dapur, terlihat emaknya sedang duduk di meja makan. Mata emaknya seolah merenung kosong, hidangan makan malam yang telah disediakan di atas meja. Perlahan-lahan Maman menghampiri emaknya, di pegangnya kedua bahu emaknya lembut. Maman menunduk dan bibirnya menghampiri telinga emaknya.

“Mak… Man janji, Cuma kita berdua yang tau…. Mak janganlah risau… Man sayang mak… ” bisik Maman di telinga emaknya.

Halimah merasakan sejuk hatinya mendengar kata-kata Maman yang lembut itu. Jari jemari Maman yang sedang memegang bahunya terasa sungguh berbeda. Hembusan nafas di telinganya membangkitkan bulu roma Halimah. Perasaan berdebar-debar menyelinap ke dadanya bersama selautan rasa sayang yang tinggi menggunung kepada anak bujangnya itu. Halimah menoleh perlahan memandang wajah Maman yang hampir rapat di pipinya. Sikap Maman kepadanya seolah mengisi sedikit kekosongan batinnya yang merindukan belaian lelaki, yaitu suaminya.

Wajah mereka saling berhadapan. Maman mengukir senyuman yang ikhlas di bibirnya, begitu juga Halimah. Pipi halus Halimah di usap Maman dengan lembut. Halimah memejamkan matanya. Bibirnya yang lembab dan tipis terbuka sedikit. Maman yang seperti di pukau dengan bisikan gendang setan itu pun tanpa ragu-ragu membenamkan mulutnya mengecup bibir emaknya. Mereka berkecupan, penuh kasih sayang. Perasaan yang sejak awalnya kasih sayang antara ibu dan anak akhirnya bertukar menjadi perasaan kasih sayang yang berlambangkan seks yang saling memenuhi dan memerlukan.

Tangan Halimah perlahan-lahan mengusap rambut anak bujangnya yang sedang hangat mencumbui bibirnya. Bibir Halimah lihai memagut bibir Maman yang nampaknya masih tidak mahir dalam permainan manusia dewasa itu. Nafas masing-masing saling bertukar silih berganti. Degup jantung dua insan itu semakin kencang, seiring dengan deru nafsu yang semakin bergelora. Halimah semakin lemah, dia terus memeluk tubuh Maman. Tertunduk Maman di peluk emaknya, mulutnya masih mengecup bibir emaknya. Gairah Maman kembali bangkit, lebih-lebih lagi apabila bayangan emaknya menghisap zakarnya di pagi dan sore hari itu silih berganti di kotak fikiran. Maman semakin berani melangkah, tangannya yang tadi memegang bahu emaknya kini menjalar ke buah dada emaknya yang masih berbalut kaos. Kekenyalan buah dada emaknya yang tidak memakai bra itu dirasakan sungguh mengasyikkan. Puting emaknya yang semakin keras dan menonjol di permukaan kaos dipelintir lembut berulang kali, Halimah semakin terangsang dengan tindakan anaknya itu. Ini mendorong Halimah untuk meraba dada anaknya yang bidang itu. Tangannya kemudian turun ke pinggang anaknya dan seterusnya dia menangkap sesuatu yang keras dan membonjol menusuk sarung yang dipakai anaknya. Zakar Maman yang semakin keras di dalam kain sarung di genggam Halimah. Di genggam zakar anaknya penuh nafsu. Perasaan penuh nafsu yang melanda Halimah mendorongnya untuk mengulangi sekali lagi perbuatannya seperti di waktu siang tadi. Halimah melepaskan kecupan di bibir anaknya. Senyuman terukir di wajahnya, mempamerkan rasa birahi yang tak terbendung lagi. Halimah melepaskan kain sarung Maman, maka jatuhlah kain sarung yang Maman pakai ke lantai dan sekaligus memperlihatkan zakarnya yang keras dan berotot itu tegak mengacung ke wajah emaknya. Halimah tau kehendak Maman. Malah, dia juga menginginkannya juga. Perlahan-lahan Halimah membenamkan zakar keras Maman ke dalam mulutnya.

Maman memperhatikan perbuatan emaknya tanpa malu lagi. Sedikit demi sedikit zakarnya di lihat tenggelam ke dalam mulut emaknya yang menggemaskan. Tahi lalat di dagu emaknya menambah kecantikan emaknya yang sedang menghisap perlahan zakarnya.

Halimah semakin galak menghisap zakar anaknya. Perasaan keibuan yang sepatutnya dicurahkan kepada anaknya sama sekali hilang. Nafsu dan kerinduan batinnya menguasai akal dan fikiran membuatnya hilang pertimbangan hingga terjerumus permainan nafsu bersama anak kandungnya sendiri. Halimah benar-benar tenggelam dalam arus birahi. Zakar anaknya yang di hisap dan keluar masuk mulutnya benar-benar memberikan sensasi kelezatan menikmati zakar lelaki yang di rindui selalu. Setiap lengkuk zakar anaknya di hisap dan dinikmati penuh perasaan. Tangan kirinya mengusap-usap vaginanya dari luar kain batik. Sungguh terlena dirinya dirasakan ketika itu, dahaga batin yang selama ini membelenggu jiwanya terasa seolah terbang jauh bersama angin. Dirinya merasakan begitu dihargai. Jiwanya semakin tenteram dalam gelora nafsu.

Maman pula benar-benar menikmati betapa nikmat merasakan zakarnya di hisap oleh emaknya. Wajah emaknya yang sedang terpejam menikmati zakarnya penuh nafsu itu memberikan satu kenikmatan yang sulit untuk di ucapkan. Matanya tertuju kepada tangan emaknya yang sedang menggosok-gosok vaginanya. Kain batik yang dipakai emaknya terlihat merosot ke bawah akibat kelakuan emaknya. Paha montok emaknya yang kelihatan lembut dan membangkitkan selera Maman. Serta merta Maman menarik zakarnya keluar dari mulut emaknya. Maman terus menunduk mengecup emaknya dan sekaligus dia memeluk tubuh emaknya. Halimah membalas perlakuan Maman dengan kembali mengecupinya. Sambil bibirnya mengecup emaknya, Maman menarik Halimah agar berdiri dan Halimah terdorong untuk mengikuti kemauan Maman. Mereka pun sama-sama berdiri dan berpelukan erat, dengan bibir masing-masing yang berkecupan penuh birahi. Maman mengusap selangkangan emaknya. Kain batik lusuh yang menutupi vagina emaknya terasa basah akibat lendir nafsu yang semakin banyak membanjiri lorong nikmat kewanitaan emaknya. Maman menyelak kain batik emaknya ke atas, mencoba mengarahkan zakar mudanya memasuki lubang kemaluan emaknya.

Halimah tahu keinginan anaknya. Sambil tersenyum, dia menyingkap kain batiknya ke atas dan berbalik menghadap meja makan, mempamerkan pantatnya yang tidak memakai celana dalam kepada anaknya. Maman seperti terpukau menatap pantat emaknya yang putih mulus dan bulat montok di hadapan matanya. Pantat lebar emaknya di usap dan di remas penuh nafsu. Usapannya kemudian semakin bernafsu, dari pinggang turun ke paha, kelentikan pinggang emaknya yang seksi benar-benar membakar nafsunya. Sementara Halimah memegang zakar Maman yang mengacung di belakangnya. Tanpa segan, Halimah menarik zakar Maman agar mengambil posisi yang memudahkan mereka menjalankan misi yang selanjutnya. Zakar Maman di tarik hingga terselip di celah kelengkangnya. Maman yang membiarkan saja tindakan emaknya itu terdorong ke depan memeluk belakang tubuh emaknya dan zakarnya terus menyelinap ke celah selangkang emaknya yang sudah terlalu licin dan becek dengan lendir nafsu. Halimah menunggingkan tubuhnya dan tubuhnya maju mundur menggesek zakar Maman di celah selangkangnya. Maman yang pertama kali menikmati pengalaman mengasyikkan itu semakin terbakar birahinya. Tangannya tak henti meraba dan meremas pantat lebar emaknya yang montok menyentuh perutnya. Halimah sudah tidak sabar lagi, tangannya segera mencapai zakar Maman yang keras di alur selangkangnya dan mengarahkannya masuk ke mulut lubang kenikmatan miliknya. Dia sudah tidak peduli zakar siapa yang sedang dipegangnya itu. Dengan sekali sentak saja, tubuhnya dengan mudah menerima seluruh daging keras anaknya menerobos lubang kemaluannya yang sudah lama merindukan tusukan zakar lelaki. Maman dan halimah saling menahan nafas, terdiam menikmati zakar dan lubangnya bertemu. Halimah membiarkan zakar hangat Maman terendam di lubuk kewanitaannya. Statusnya sebagai ibu kepada anak lelakinya itu sudah hilang begitu saja. Nafsu benar-benar menghilangkan kewarasannya sebagai ibu, hingga sanggup menyerahkan seluruh tubuhnya, malah mahkota kewanitaan yang selama ini hanya dinikmati oleh suaminya seorang, dinikmati oleh anaknya atas keinginannya dan kerelaannya sendiri. Halimah benar-benar menikmati zakar anaknya menusuk-nusuk pangkal lubang nikmatnya. Dia mengemut zakar anaknya semau hatinya, terasa seperti ingin melumat zakar itu di dalam kemaluannya.

Manakala Maman benar-benar menikmati kemutan yang dirasakan oleh zakarnya di liang senggama emaknya yang hangat itu. Seluruh otot zakarnya yang mengembang keras terasa dihimpit oleh dinding daging yang lembut dan licin. Terasa seolah zakarnya di hisap oleh kemaluan emaknya. Maman kemudian perlahan-lahan memompa zakarnya hingga kepalanya yang berkembang besar itu menggesek pangkal kemaluan wanita yang seharusnya disanjung sebagai ibu. Perasaan sayang Maman yang sebelum itu sekedar hubungan anak kepada ibu semakin dihantui nafsu yang membara. Birahi yang diciptakan ibunya mendorong Maman untuk menyayangi ibunya seolah seorang kekasih, yang rela memberikan kenikmatan persetubuhan sumbang antara darah daging. Maman tahu, dari lubang yang sedang di pompanya itulah dirinya keluar dahulu. Namun kini lubang itu sekali lagi dia masuki dengan penuh kerelaan, hanya cara dan permainan perasaan saja yang berbeda.

Begitu juga Halimah, terfikir juga di benaknya, bahwa zakar lelaki yang sedang dinikmati di liang senggamanya itu adalah milik seorang bayi yang keluar dari liang senggamanya dahulu. Namun kini, bayi itu sudah besar dan kembali memasuki liang senggamanya atas desakan batinnya sendiri. Perasaan birahi Halimah yang selama ini terpendam terasa seolah ingin meletup di dalam dirinya. Keringat semakin deras mengalir di dahi dan tubuhnya bersama nafas yang semakin cepat dan memburu. Zakar yang semakin galak dan cepat menompa kemaluannya semakin menenggelamkan Halimah dalam lautan nafsu. Akhirnya Halimah menikmati puncak kenikmatan. Halimah merasakan tubuhnya menegang karena klimaks yang telah dia tunggu-tunggu. Tubuhnya bergetar bersama ototnya yang mengejang. Zakar anaknya yang menusuk lubang kemaluannya dari belakang di himpit penuh. Pantatnya semakin di lentikkan agar zakar itu semakin kuat menghentak dasar kemaluannya. Halimah benar-benar hilang akal. Dia benar-benar dipuncak segala nikmat yang selama ini dirindukan.

Maman hanya memperhatikan perubahan demi perubahan pada tubuh emaknya. Dia tahu, emaknya baru saja mengalami satu kenikmatan yang terlalu nikmat. Belakang baju kaos emaknya nampak basah dengan keringat.

“Man… terima kasih sayanggg…. Mak sayangg Mamann… ” Kata Halimah sambil menoleh kebelakang melihat Maman yang masih berdiri gagah.

Maman hanya tersenyum, tangannya meremas-remas lembut daging lembut di pinggul emaknya. Lemak-lemak yang menambah kemontokan dan kebesaran bokong emaknya di usap penuh kasih sayang. Halimah tahu, Maman butuh kenikmatan seperti dirinya. Halimah melentikkan tubuhnya, sambil menekan zakar Maman agar tenggelam lebih dalam dan menusuk dasar kemaluannya. Bokongnya di gerakkan seperti penari dangdut di klab malam, membuat zakar Maman lebih menikmati gesekan dengan dinding vaginanya. Maman merintih kecil menahan gelora kenikmatan. Halimah tau, Maman menikmati perbuatannya.

“enak sayangg….?” Tanya Halimah manja.

“Uhhh…. Ee.. enakk mm..makk.. ooohhh…. ” jawab Maman tersengal-sengal.

Zakarnya semakin ditekan dalam. Tubuh emaknya yang padat berisi itu ditatap penuh nafsu. Halimah sekali lagi menoleh melihat Maman yang sedang bernafsu menatap tubuhnya.

“Mak cantik tak sayangg….? ” Tanya Halimah menggoda anaknya.

“Ohhh… mak cantikkk…. Mmm…mmakk… Man…. Ttt.. tak tahannn…. ” rintih Maman tak tahan di goda emaknya.

“Nanti kalau mak mau lagi boleh….? ” Tanya Halimah penuh kelembutan dan godaan kepada anaknya yang sudah semakin di ambang puncak kepuasan.

“Ohhh…. Makkkk…….. ” Maman semakin tidak tahan melihat Halimah tak henti menggodanya.

Tubuh Halimah yang menungging di tepi meja itu memberikan sensasi birahi yang meluap-luap kepada Maman. Dia benar-benar tidak menyangka dirinya telah menyetubuhi emaknya. Pantat emaknya yang besar itu semakin menaikkan nafsu Maman. Dia tidak mampu bertahan lagi. Malah, dia ingin meluapkan perasaannya kepada emaknya tentang apa yang diinginkannya, demi perasaannya yang benar-benar ingin menikmati kepuasan yang terlalu sulit untuk diungkapkan itu.

“Ooohhhhh…. Makkk… Pasti makkk… Maman… ss.. sukaa tubuh makkk…. ” akhirnya Maman meluapkan perasaannya yang ingin sekali diluapkan.

“Sayanggg…. Maman anak makkk…. Mamannn sayangg…… ” Halimah juga menikmati perasaan birahi yang sedang melanda Maman.

“Makkk….. Arrhhhhhhh….” Rintih Maman.

“Cuurrrrrr….. Cruuuttttt!!! Cruttttt….. ” akhirnya muncratlah benih jantan anak muda itu ke dalam rahim ibu kandungnya sendiri.

Maman menikmati betapa nikmatnya melepaskan air mani di dalam liang kewanitaan emaknya. Air maninya banyak menyemprot keluar dari zakarnya di dalam vagina. Halimah memejamkan mata menikmati air mani anaknya yang hangat memenuhi lubang kemaluannya. Dasar kemaluannya terasa disirami air hangat yang memenuhi segenap rongga kewanitaannya yang sepatutnya hanya untuk suaminya seorang.

Dalam posisi yang sama halimah masih terpejam matanya, menungging berpegangan di tepi meja makan. Kain batiknya yang diselakkan ke atas pinggang masih memperlihatkan pantatnya yang sedang dihimpit rapat oleh anaknya, menikmati keindahan dan kenikmatan menyetubuhi emaknya. Zakar Maman masih terendam di dalam lubuk birahi Halimah, seolah begitu sayang untuk melepaskan saat-saat manis itu hilang begitu saja. Perasaan kasih dan sayang yang selama ini diperuntukan untuk seorang ibu hilang bersama angin malam, diganti oleh perasaan kasih dan sayang yang sepatutnya hanya dimiliki oleh seorang kekasih. Halimah kepuasan, dahaga batinnya yang selama ini dirindukan akhirnya terurai sudah. Kenikmatan yang dialami sebentar tadi sama sekali tidak disesali, malah dia benar-benar menghargainya. Halimah merelakannya, disetubuhi oleh darah dagingnya sendiri, demi kepentingan batinnya. Dia tahu, dirinya kini bukan lagi dimiliki oleh suaminya seorang, malah anaknya sendiri, yang sudah menikmati tubuhnya. Anaknya kini suaminya, yang didambakan belaian penuh nafsu untuk dinikmati melebihi dari suaminya. Demi nafsu dan kasih sayang yang semakin membara, Halimah kini mencintai suami barunya….. anaknya…

Comments are Closed